Kamis, 14 April 2016



SEJARAH DAN PERKEMBANGAN SOSIALISME DI INDONESIA


 disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Intelektual







oleh :


Novita Ayu Karisma  130210302035
Rihardo Ardiansyah    130210302053
Meinda Ratih Siwi      130210302055




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2016




BAB 1 PENDAHULUAN

1.1  Pendahuluan
Sosialisme merupakan suatu paham yang mengandung pengertian yang sangat kompleks karena di setiap negara dan para pemikir memiliki asumsi yang berbeda – beda.  Sosialisme muncul sebagai dampak dari kapitalime modern . Sepandjang kenjataan bahwa sosialisme mengandung di dalamnja satu unsur protes sematjam itu . Dan tidak ada gerakan jang dapat menamakan dirinja sosialis dengan tidak menjatakan protes sematjam itu (Ebenstein , 1965 : 168 )
Dengan kata lain , bahwa sosialime muncul akibat dari antithesis untuk melawan suatu sistem yang disebut sebagai kapitalisme modern. Dimana waktu itu sistem kapitalis modern hanya menguntungkan kaum borjuis dan pemilik modal dan sangat merugikan kaum buruh atau kamu proletar. Paham sosialisme mengajarkan suatu paham , pandangan hidup dan ajaran kemasyrakatan yang mempunyai keinginan menguasi seluruh sendi – sendi , sarana – sarana produksi serta pembagian hasil yang rata .
Dari latar belakang tersebut penulis ingin menjabarkan tentang apa itu pengertian sosialisme , bagaimana bentuk bentuk pembagian sosialisme , apa dan bagaimana secara lebih lengkap sejarah sosialisme dan yang ingin penulis bahas adalah masuk dan berkembangnya sosialisme di Indonesia
1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang pemilihan masalah dan uraian ruang lingkup penelitian diatas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1.      Apakah yang di maksud Sosialisme ?
2.      Bagaimana sejarahnya Sosialisme ?
3.      Bagaimana konsep – konsep Dasar sosialisme ?
4.      Bagaimana proses dan berkembangnya Sosialisme di Indonesia ?




1.3  Tujuan dan Manfaat Sosilisme
1.      Untuk mengetahui pengertian  Sosialisme
2.      Untuk mengetahui sejarahnya Sosialisme
3.      Untuk mengetahui konsep – konsep Dasar Sosialisme
4.      Untuk mengetahui Proses dan berkembangnya sosialisme di Indoensia



BAB 2 PEMBAHASAN

1.1  Pengertian Sosialisme

sosialisme ( sosialism ) secara etimologi berasal dari bahasa prancis , yaitu sosial yang berarti kemasyarakatan. penekanan utama pada kata sosialisem adalah kebersamaan dan gotong royong. dan lawan dari sosialisme adalah kapitalisme yang merupakan suatu cara mengadakan produksi dengan dasar mengadang laba ( J.M. Romein 1965 dalam Leo Agung ,2013: 70 ). Dengan demikian sosialisme muncul akibat dari suatu bentuk perlawanan terhadap sistem yang lebih menekankan pada mencari keuntungan pribadi.
Menurut bebrapa tokoh mengartikan suatu sosilisme adalah sebagai berikut .
a.       Keneth J Arrow dalam Budiharjo (1984) menyatakan bahwa sosialisme adalah suatu sistem ekonomi dimana sebagain besar keputusan – keputusan dibidang ekonomi diambil dalam satuan-satuan yang dikuasai oleh berbagai bagian dari struktur negara atau para pekerja.
  1. Sutan Syarir dalam Anwar (1966) menyatakan bahwa sosialisme adalah suatu ajaran dan gerakan untuk mencari keadilan di dalam kehidupan kemanusiaan.
  2. Teuku May Rudy (1993) menyatakan bahwa sosialisme adalah paham yang beranggapan bahwa kepentingan bersama atau kepentingan umum harus diutamakan dibandingkan kepentingan individu.
  3. Ir. Soekarno (1963) menyatakan sosialisme adalah bukan saja merupakan suatu sistem masyarakat, sosialisme juga suatu tuntutan perjuangan yakni kemakmuran bersama. Dari beberapa pendapat diatas dapat dinyatakan bahwa sosialisme adalah suatu paham yang menghendaki adanya kemakmuaran bersama.
  4. Masih berbicara tentang sosialisme, R.N Berki (1975) secara lebih rinci menyatakan bahwa sosialisme sebagai suatu konsep mempunyai dua pengertian. Pertama, sosialisme berkaitan dengan ide-ide, nilai, dan hak milik yang sering disebut sebagai vision (cita-cita) sosialisme. Kedua, sosialisme berkaitan dengan segi empiris, sosial, dan institusi politik yang digunakan untuk mewujudkan cita-citanya, R.N Berki selanjutnya menyatakan bahwa sosialisme di tingkat nilai menyuarakan nilai-nilai kebebasan, persaudaraanm, keadilan, sosial, kemajuan, perdamaian, kemakmuran, dan kebahagiaan, sedangkan di tingkat lembaga, sosialisme meruapakan lawan sistem perusahaan kapitalisme.

Jadi dapat disimpulkan bahwa sosialisme merupakan suatu paham yang mengajarkan masyarakat menguasi suatu sarana dan prasarana alat – alat produksi dan adanya suatu pembagian hasil yang rata.

1.2  Sejarah sosialisme
tidak lah mudah untuk mengatakan kapan sebenarnya sosialime muncul  . Ada yang beranggapan bahwa sosialisme sudah ada sejak ada nya kitab injil . dan menjadikan undang – undang kitab sosialis yang pertama dan berupa aturan – aturan yang melindungi kaum pekerja , wanita dan kaum lemah . orang – orang kriten lah yang mula mula menolak konsep ‘ mine of thnie ‘yang berarti kepunyaan saya dan kepunyaan mu dan memprakrekkan sosialisme dalam kehiduapan sehari – hari mereka (Ebenstein , 1965 : 167)
            Dengan kata lain , Sosialisme sebagai kekuatan besar baru lahir dalam revolusi industri yang muncul dalam gerakan protes. Sebagai filsafat politik, ia timbul dengan melepaskan diri dari sistem ekonomi kapitalisme yang mendukung kredo liberalisme. Kapitalisme abad 19 adalah ekploitasi kasar dan persaingan tanpa batas. Ketidakpuasan dan pergolakan sosial yang ditimbulkan tercermin dalam mazhab sosialisme utopis dan marxism
( Schman ,2002 : 571 )
            Awal kemunculan sosialisme abad ke 19 dinamakan sosialisme utopis yaitu sosialisme yang didasarkan pandangan kemanusiaan (humanitarianisme) dan meyakini kesempurnaan watak manusia. Penganut faham ini bercita-cita menciptakan masyarakat sosialis dengan jalan damai tanpa kekerasan atau revolusi ( Azhar , 1997 : 56 )
                        Di zaman reneisance dan reformasi timbul lagi protes terhadap ketidaksamaan berdasarkan kekayaan. argumen – argumen baru yang dikemukaan merupakan gabungan dari kepercayaan lama dan paham rasionalisme yang lebih baru . seperti terbukti dlam bukunya Thomas Moore , Utopia (1516) .Dalam revolusi kaum puritan di abad ke – 17 di samping gerakan utamayang berasal dari golongan kelas menengah muncul satu golonga yang lebih radikal . golongan ini di sebut Diggers atau true leveres yang berusaha mendapatkan hak milik komunal atas tanah yang pada waktu itu tidak di pakai . Gerakan itu pendek umurnya , tetapi protesnya lebih radikal terhadap harta kekayaan pribadi berupa tanah tidak harus dilupakan seluruhnya (Ebenstein , 2006 : 279 )
            Gerakan – gerakan yang dilalakukan oleh sekelompok gologan tersebut merupakan bentuk dari ketidakpuasan adanya kepemilikan tanah komunal yang pada saat itu tidak terpakai dan menjadi kan kelompok puritan melakukan suatu gerakan mengambil hak milik mereka.
            Meskipun telah ada gambaran semaca itu tentang keadaan zaman dulu , sosialisme sebagai kekuatan politik yang penting dapatlah dikatakan timbul sebagai akaibat kapitalisme industri modern . sebgaai kenyataaan bahwa sosialisme di dalamnya satu unsur prtes terhadap perbdaan tingkat sosial – sistem tersebut sama yuanya dengan peradaban barat sendiri .Tanda sosialis lainnya , protes terhadap anggapan bahwa uang sebagai ikatan pokok diantara manusia , juga tidak terdapat dalam sosialis saja .
            Sekali pun gerakan-gerakan yang boleh dinamakan “sosialis” telah muncul pada abad ke 17, istilah “sosialisme” baru pertama kali dipakai pada tahun 1827 dalam suatu majalah perkoperasian. Istilah ini menunjuk pada orang-orang seperti Robert Owen (1771-1858) yang ingin meringankan kesengsaraan pekerja pabrik  ( Agung , 2013 :117 )
            Apabila ingin mengkaji lebih khusus dan secara historis lebih kongkret daripada hanya sebgai bentu protes terhadap ketimpangan sosial , sosialisme merupakan suatu gerakan plitik yang efektif dan terorganisasi muncul adanya suatu gerakan politik yang efektif dan terorganisasi muncul setelah adanya revolusi insustri pada abad ke – 18 di Inggris. Adanya penemuan baru di bidang tekhnologi telah membuka cakrawala di bidang industri dan perdagangan .
Selanjutnya muncullah golongan pengusaha pemilik modal yang hidup makmur ( kaitalis ) , sebaliknya golongan buruh dengan upah yang sangat minim / rendah hidup melarat dan menderita . karena inilah yang kemudian menimbulkan kritik yang tajam terahaap sistem ekonomi kapitalis yang berdasarkan paham liberalisme . kritik tersebut dilontarkan oleh paham yang menganut sosialis.



Beberapa cendekiawan Francis dan inggris, di antaranya Saint Simon, Charles Fourier, dan Robert Owen tergugan oleh kesengsaraan dan ingin mempebaiki keadaan. Pada umurnnya mereka mencita- citakan suatu masyarakat yang lebih egaliter yang kekayaannya dibagikan secara lebih merata dan milik pribadi serta persaingan dibatasi. Mereka menekankan perlunya kerja sama antara berbagai kelas sosial dan ingin mempertahankan keakhlakan yang tinggi. Mereka cenderung mengadakan ekspirimen dengan mendirikan pemukiman- pemukiman yang diatur sesuai dengan cita-cita mereka.
Adapaun perintis – perintis soisalis adalah sebagai berikut
a.        Robert Owen (1881 – 1858)
Pemikirannya tentang sosialisme dituangkan dalam buku berjudul “A View of Society, an Essay on the Formation of human Character”. Dalam bukunya tersebut, ia menyatakan bahwa lingkungan sosial berpengaruh pada pembentukan karakter manusia. Ia berusaha mencari caranya dengan meningkatkan kesejahteraan pekerjanya.
Robert Owen seorang industriawan perusahan melaksanakan ajarannya dalam praktik. Di suatu pabrik tekstilnya di New Lanark, Skotlandia; Owen mengurangi jam kerja dari 17 menjadi 10 jam sehari dan melarang anak di bawah umur 10 tahun untuk bekerja. Owen memperbaiki upah -buruh dan menggunakan sebagian keuntungannya untuk memperbaiki nasib para pekerja. Karena Owen sangat mementingkan pendidikan, ia mendirikan sekolah tanpa memungut biaya. Di samping itu, Owen mendirikan suatu pemukiman di Amerika Serikaf pada 1824 bernama New Harmony. Akan tetapi, ternyata pemukiman itu hanya bertahan 2 hingga 3 tahun karena masalah keuangan, pengelolaan yang kurang baik,dan tidak disiplinnya warga pemukiman. Dia lebih berhasil dalam usahanya mendirikan koperasi di bidang produksi dan konsumsi dan membantu pendirian dan koordinasi antara serikat-serikat sekerja.Owen dikenal sebagai "Bapak Koperasi Inggris”.
b.      Karl Heinrich Marx (1818 – 1883)
Ia menciptakan sosialisme yang didasarkan atas ilmu pengetahuan. Ia mengembangkan sosialisme secara radikal. Karya Karl Marx yang terkenal adalah “Das Kapital” yang menyatakan bahwa sejarah manusia adalah sejarah perjuangan kelas dan pemenang dari peperangan itu adalah kaum proletar (kaum buruh). Sosialisme pada masa penjajahan banyak mendapat simpati dari bangsa pribumi. Paham sosialisme semakin banyak berpengaruh setelah konsep ini dijadikan sebagai salah satu senjata menghadapi kolonialisme dan imperialisme. Di negaranegara Asia – Afrika, banyak pemimpin yang tertarik dengan ajaran sosialisme.
c.       St. Simon (1760-1858)
Dia merupakan bapak sosialisme. Dia adalah orang pertama yang menyerukan perlunya sarana-sarana produksi agar dimiliki sepebuhnya oleh pemerintah. st. Simon pernah mengatakan berpendapat bahwa masalah-masalah sosial yang dihadapi dapat diatasi jika masyarakat di menjadi “Asosiasi Produktif” yang pimpinannya diserahkan kep para teknokrat dan ahli-ahli industri yang mengatur kehidupan secara rasional dan mengendalikan kekuatan-kekuatan ekonomi, termasuk usaha swasta. Dia menginginkan agar alat-alat produksi menjadi milik masyarakat, tetapi tidak bermaksud menghapuskan sama sekali milik pribadi selama merupakan hasil kerja sendiri, artinya bukan warisan atau hasil eksploitasi terhadap orang lain.
d.         Thomas Moore
Dia adalah seorang sosialis Utopis. Menurutnya sosialisme merupakan reaksi dari kapitalisme. Sosialisme hanya dapat mengambangkan dirinya di negara dengan tradisi liberal yang sudah berkembang, sedangkan di negara yang tidak memiliki tradisi ini, maka sosialisme akan berubah menjadi fasisme.
e.       Fourier (1772-1837)
 berpendapat bahwa suatu kehidupan yang sehat hanya dapat dicapai dalam kesatuan-kesatuan kecil yang dinamakan "Phalanx". Setiap phalanx yang terdiri dari kira-kira 1.600 orang diatur sedemikian rupa sehingga tiga unsur yang menurut Fourier antagonisme secara ilmiah, yakni modal-buruh-bakat; bekerja sama, dengan harmonis. Setiap phalanx adalah otonom, swasembada, dan berbentuk sebagai semacam koperasi.
Robert Owen , St Simon , dan Fourier ini tidak berhasil dalam usaha menerapkan cita- cika mereka. Mereka terlalu naif mengira bahwa belas kasihan, perikemanusiaan, keteladanan, dan persuasi dapat menciptakan suatu dunia yang lebih sempurna. Mereka tidak menyadari bahwa tanpa konsepsi yang jelas mengenai bentuk masyarakat yang ingin dicapai serta mengenai upaya untuk mencapainya, cita-cita akan tetap angan-angan saja. Tidak mengehrankan jika mereka diberi julukan "sosialis utopi” (utopi: dunia khayalan)



 Tokoh Sosialis Ilmiah
Seorang yang juga terkesan oleh kesengsaraan yang ditimbulkan oleh Revolusi Industri adalah Karl Marx (1818-1883), seorang Yahudi, Jerman. Dia berpendapat bahwa masyarakat tidak dapat diperbaiki secara tambal sulam, tetapi sendi-sendinya perlu dirombak secara radikal sampai terjadi transformasi total. la menyusun suatu teori sosial yang menurutnya didasari hukum-hukum ilmiah dan karena itu pasti akan terlaksana.
Marx dengan memakai ajaran filsuf Jerman, George Hegel (1770-1831), mengatakan bahwa perkembangan terjadi melalui dialektik, yaitu melalui pertentangan antara tesis dan antitesis, pertentangan yang sesudah pergumulan dahsyat menjadi sintesis. Setiap sintesis Iambat Iaun menjadi tesis lagi dan proses dialektik mulal lagi dari permulaan. Setiap sintesis baru terjadi pada tahap yang lebih tinggi sehingga pada suatu ketika sintesis tertinggi akan tercapal dan gerakan dialektik berakhir. Dialektik adalah gerak maju darl taraf rendah ke taraf yang lebih tinggi dengan suatu irama ulangan dari pertentangan serta antagonisme ke rekonsiliasi serta perpaduan. Proses dialektik adalah rekonsiliasi gerakan-gerakan yang bertentangan satu sama lain dalam upaya yang tiada akhirnya untuk mencapai harmoni yang lebih sempuma. Dengan cara ini pula menurut Marx, masyarakat berubah dan berkembang secala dialektik, artinya mesyarakat dinegasikan sehingga akhirnya menjadi komunis. Dalam uraian Marx, "Komunisme adalah tahap negasi dari negasi". Negasi diartikan sebagai penghancuran dari yang lama, sebagai hasil dari perkembangan sendiri yang diakibatkan oleh kontradiksi-kontradiksi intern.
Masyarakat Barat telah befkembang secara dialektik melalui beberapa tahap, yaitu masyarakat perbudakan, masyarakat feodal, dan masyarakat kapitalis. Dalam masyarakat kapitalis (pada masyarakat yang dialami oleh Marx sendiri) telah terjadi pertentangan antara dua kelas utama, yakni kaum kapitalis (yang memiliki alat-alat produksi) dan kaum proletar (yang hanya memiliki tenaga). Jika masyarakat kapitalis telah berkembang, masyarakat itu akan berubah-sebagai gerakan dialektik terakhir-menjadi masyarakat komunis. Kapitalisme akan hancur karena krisis intern dan hanya sosialisasi alat-alat produksi yang akan mengakhiri kontradiksi-kontradiksl kapitalisme.
Menurut Marx, kaum proletar akan memainkan peranan historis untuk merombak keadaan masyarakat dengan cara merebut kekuasaan dari kaum kapitalis revolusi dan dengan mengusai alat-alat produksi. Pertarungan antara kaum kapitalis melawan kaum proletau akan merupakan pertentangan kelas terakhir dan dengan demiklar gerak dialektik akan berakhir.
Revolusl akan mengawali "diktator proletar yang revolusioner” yang merupakan transisi ke masyarakat komunis. Masyarakat komunis pun mengenal suatu tahap awal (the first phase of communist society) yang kemudian oleh Lenin disebut "tahap sosialisme”-ketika "setiap orang memberi sesuai dengan kemampuannya dan menerima sesuai dengan karyanya". 
Pada masyarakat yang telah mencapai komunisme penuh ( yang disebut the higher phase of communist society) prinsip ekonomi telah meningkat menjadi "setiap orang memberi sesuai dengan kemampuannya dan menerima sesuai dengan kebutuhannya”. Dalam masyarakat komunis ini, menurut Marx, kelas sosial telah tiada dan dengan sendirinya pertentangan kelas dengan segala kekerasannya juga telah berakhir. Tiada lagi eksploitasi, penindasan, dan paksaan. Negara, yang oleh Marx dianggap sebagai alat bemaksa (instrumen of coercion) di tangan kelas yang berkuasa, tidak lagi perlu ada dan akan melenyap (the state will wither a way). Akan tetapi, untuk mencapai masyarakat yang diidam-idamkan itu penggunan kekerasan dan paksaan perlu, baik untuk menyelenggarakan revolusi maupun selama terselenggaranya diktator proletariat.



1.3  Konsep sosialisme
1.3.1 Unsur-Unsur Pemikiran dan Kebijaksaan Sosialisme
Unsur-unsur pemikiran dan kebijaksanaan sosialisme ketika lahir di lnggris ialah sebagai berikut.
a.       Agama
Dalam buku The Labour Party in Perspective, Attlee menulis bahwa “…dalam pembentukan gerakan sosialis pengaruhagama merupakan yang paling kuat. Inggris pada abad ke19 masih merupakan bangsa yang terdiri dari para pembaca kitab suci. Di dalamnya mereka akan menemukan bacaan yang mendorongnya untuk tampil sebagai pengkhotbah berbagai doktrin keagamaan, sosial, dan ekonomi.  Banyaknya jumlah sekte keagamaan di negeri ini dan adanya berbagai ajaran yang dianutnya membuktikan hal ini....”
Gerakan sosialis Kristen yang dipimpin oleh dua orang biarawan,yakni Frederick Maurice dan Charles  Kingsley mencapai puncak kejayaannya pada pertengahan abad ke-18 dan menjadi sumber penting  untuk perkembangan organisasi kelas buruh dan sosialis di kemudian hari. Prinsip yang menjadi pedoman bagi kaum sosialis Kristen adalah konsep yang mendasarkan bahwa sosialisme harus dikristenkan dan kristianitas harus disosialisasikan.

b.      ldealisme Etis dan Estetis
Idealisme etis dan estetis juga menjadi sumber bagi sosialisme lnggris. IdeaIisme yang diungkapkan oleh beberapa penulis,seperti John Ruskin dan William Morris bukanlah suatu program politik atau ekonomi, melainkan merupakan pemberontakan terhadap kemelaratan, kebebasan, dan kemiskinan hidup dibawah kapitalisme industri. Kapitaiisme Inggris yang mula-mula berkembang di Inggris mungkin menciptakan lebih banyak keburukan di Inggris daripada di tempat lain karenapara industriawan inggris tidak dapat membayangkan bahwanantinya kapitalisme akan mengubah udara dan air yang jernih dan keindahan wilayah pedalaman Inggris. Mereka juga tidak memperhitungkan sebelumnya pengrusakan pemandangan kota dan desa tua oleh adanya pemukiman-pemukiman dan pusat-pusat pabrik.
Kalau Marx melakukan pendekatan terhadap kapitalsime industri dalam kerangka hukum-hukum kosmos seperti perkembangan sejarah dunia menurut hukum-hukum sosial yang tidak dapat dielakkan, filsafat
materialisme; maka Morris lebih bertumpu pada kenyataan. Di sekitarnya ia melihat barang dan perlengkapan rumah tangga yang jelek serta kehidupan manusia yang tidak menampakkan kecerahan  dan keindahan dalam kehidupan. la sungguh merasakan bahwa seni harus dikembalikan ke dalam kehidupan sehari-hari dan dorongan-dorongan yang kreatif pada setiap orang harus diberi jalan untuk penyalurannya dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari.
Pengaruh Ruskin dan Morris lebih banyak mengandung negatifdari pada positifnya. Mereka menunjukkan apa yang secara fisik dan moral salah menyangkut peradaban yang dibangun di atas perselisihan dan kemeratan, tetapi mereka tidak merumuskanprogram-program tertentu untuk memperbaiki kondisi-kondisi yang dikritiknya. Meskipun demikian, pemberontakan estetika dan etika ini membawa pengaruh yang penting dalammempersiapkan suatu lingkungan intelektual tempat nantinya sosialisme mendapatkan tanggapan yang simpatik.

c.       Empirisme Fabian
Empirisme Fabian mungkin merupakan ciri gerakan sosialislnggris yang khas. Masyarakat Fabian didirikan pada 1884 danmengambil nama seorang Jenderal Romawi, yaitu Quintitus Fabian MaximusaCuntator, si “penunda”. Moto awal dari masyarakat tersebut ialah, “Engkau harus menunggu saat yang tepat, kalau saat yang tepat itu tiba engkau harus melakukan serangan yang dahsyat; sebab jika tidak penundaan yang engkau Iakukan itu sia-sia dan tidak akan membawa hasil”.
Para pendiri dan anggota pertama masyarakat Fabian adalah George Bernard Shaw, Sidney dan Beatrice Webb, H.G. Wells,dan Graham Wallas. Dalam penelitian historis tentang landasan yang dilakukan oleh Sidney Webb, seperti dalam buku Fabian Essays(1889) kita temukan apa yang menjadi dasar/falsafah sosialisme, khususnya sosialisme Inggris. Webb menyatakanbahwa sosialisme merupakan hasil yang tidak dapat dieakkandari keberhasilan demokrasi, tetapi ia menandaskan "kepastianyang datang secara bertahap", yang sangat berbeda darikepastian revolusi yang dicanangkan Marx.
Webb menekankan bahwa organisasi sosial hanya dapatterbentuk secara perlahan dan "perubahan-perubahan organis" yang penting itu hanya dapat terjadi setidak-tidaknya di Inggris dengan adanya empat kondisi atau syarat. Pertama, perubahan itu harus bersifat demokratis, dapat diterima oleh mayoritas sosialisme, dan “terproses dengan mulus dalam pikiran semua orang"; kedua, perubahan tersebut harus secara bertahap, berkesinambungan, dan konsisten; ketiga, perubahan itu harus sesuai dengan moral masyarakat; dan keempat, perubahan- perubahan tersebut harus melalui prosedur konstitusional dan menggunakan cara damai.
Masyarakat Fabian berangkat dari anggapan bahwa tidak akan ada kemajuan ke arah tatanan masyarakat yang adil kalau kepada kelas menengah dan kelas di atasnya tidak diperlihatkan kelogisan dan keadilan yang ditampilkan oleh seruan-seruan pokokdalam pemiidran dan kebijakan Sosialis. Karena pemerintah di lnggris didasarkan pada himbuan dan musyawarah dan karena kelas yang berkuasa di lnggris sebagian besar berasal dari kelas menengah dan kelas di atasnya, tidak akan ada perubahan kebijakan di Inggris tanpa persetujuan mereka. Para penganut masyarakat Fabian merasa beruntung karena mereka dapat berbicara daiam bahasa yang sama secara harfiah dan metaforis seperti yang dipakai oleh kelas yang berkuasa dan mereka tahu bagaimana menembus kelas penguasa tersebut dengan cara- cara yang mungkin mendekati propaganda resmi dari orang- orang di luar kelas yang sama.
Teknik perembesan kelompok Fabian didasarkan pada premis bahwa untuk mengubah seseorangyang berakal sehat tidak perlu menggunakan argumentasi atau kuliah yang brilian atau juga daya tarik emosional. Kelompok Fabian mempunyai kebijakan untuk menggarap pikiran dan perasaan para pendengarnya melalui proses yang beriahan dan secara bertahap dan bukannya melakukan perubahan dalam sekejap. Merekajuga Iebih banyak menggunakan kesempatan yang bersifat informal dalam masyarakat daripada melalui jaiur-jalur resmi.
Fabianisme telah sering digambarkan sebagai perubahan tanpa kebencian, pembangunan kembali tanpa perang kelas
empirisme politik tanpa dogma atau fanatlsme. Meskipun organlsasinya kecil (sekitar ribuan orang), masyarakat Fabian membawa pengaruh yang besar. Dalam pemilihan tahun 1945 yang menampilkan untuk pertama kalinya pemerintahan Partai Buruh yang didasarkan pada mayoritas yang besar dalam parlemen, 229 dari 394 anggota parlemen dari Partai Buruh berasal dari kelompok Fabian dan lebih dari separuh pejabat pemerintah, termasuk Attlee (Perdana Menterl 1945-1951) juga orang-orang Fabian. Demikian juga Hugh Gaitskell dan Harold Wilson, pengganti Attlee.
d. Liberalisme
Liberalisme telah menjadi sumber yang semakin penting bagi sosialisme, terutama sejak Partai Liberal merosot peranannya di banyak negara. Di lnggris, Partai Liberal sebenarnya sudah Ienyap dan kelihatannya Partal Buruh mewarisi sepertiga dari harta miliknya. Dari segi temperamen, banyak penganut liberal yang memenuhi kesulitan untuk bergabung dengan gerakan sosialis. Adanya kebebasan individu dan perbedaan individu menjadi adat yang paling khas dari Kaum Liberal.
Dalam waktu 40 tahun terakhir semakin banyak orang Liberal yang menggabungkan diri dengan Partai Buruh. Mengapa? Pertama, lenyapnya Partai Liberal lnggris bukanlah disebabkan kegagalannya, melainkan oleh karena hasil yang telah dicapainya membuat kehadiran partai itu tidak diperlukan lagi. Partai Konservatif maupun Partai Buruh mempunyai komitmen yang kuat terhadap prinsip-prinsip liberal yang menghormati kebebasan individu untuk beribadah, berpikir, berbicara, dan berkumpul. Kedua, perdagangan bebas yang merupakan cita-cita yang panting dari liberalisme lnggris abad ke-19 tidak muncul lagi sebagai kepentingan polirik vans menggebu-gebu. Baik golongan Konservatif maupun golongan Buruh mempunyai komitmen pada bentuk proteksi tarif tertentu, dan bahkan orang-orang Liberal sendiri sudah menyadari bahwa perdagangan bebas tidak penting Iagi seperti dulu.
Liberalisme telah memberikan banyak sumbangan yang dapat tahan lama bagi sosialisme lnggris. Karena pengaruh liberalisme, para pemimpin lebih moderat dan kurang terpaku pada doktrin. Liberalisme telah mengubah Partai Buruh menjadi sebuah partai nasional dan bukannya menjadi partai yang didasarkan pada kelas. Liberalisme juga telah mewariskan kepada Partai Buruh pesan Kaum Liberal bahwa pembaharuan akan tercapai tanpa kedengkian dan kebencian.
1.3.2        Prinsip – prinsip sosialisme
a.                   adanya suatu penghapusan kepemilkan swasta secara keseluruhan maupun sebgaian dan menerapkan sistem kepemilikan bersama
b.                  Adanya suatu kedudukan manusia tanpa memandang dari segi potensi yang mereka miliki di dalam lapangan pekerjaan  dan lain lain.
c.                   sebuah negara yang menerapkan sistem sosialisme mempunyai hak untuk mengatur dan menetukan hak penuh sistem ekonomi yang berada  di negara tersebut
d.                  golongan proletar seperti petani mempunya suatu otoritas untuk menemtukan kepentingan ekonomi negara nya


1.4      Berkembangnya sosialisme di Indonesia

Soekarno adalah penggali Pancasila. Soekarno adalah seorang penyuka Sosialisme. sebgaian besar pemikirannya dipengaruhi oleh pemikir – pemikir besar dunia seperti karl mark mahatma agandhi dan lain –lain. Bahkan ia menyebut hari depan bangsa Indonesia yang Merdeka sebagai terwujudnya Sosialisme yang diambil dan dipadukan dengan kebudaayan  Indonesia. Bila kemerdekaan diumpamakannya sebagai “jembatan emas” bagi bangsa Indonesia, maka Sosialisme adalah tujuannya.
Dalam sebuah pidato yang nantinya dikenal sebagai pidato tentang lahirnya Pancasila, Bung Karno menyatakan bahwa Pancasila bisa diringkas menjadi Trisila: Sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, dan Ketuhanan. Sosio-nasionalisme memadukan nasionalisme (persatuan Indonesia) dan internasionalisme (kemanusiaan yang adil dan berabad). Sosio-demokrasi memadukan demokrasi (kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan) dan keadilan sosial.
Menurut Bung Karno, sosio-nasionalisme adalah nasionalisme yang menginginkan keselamatan segenap rakyat dan persaudaraan umat manusia. Bagi Bung Karno, orang Indonesia yang mengaku nasionalis harus berjuang untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteran bagi segenap rakyat Indonesia. Bung Karno tidak menghendaki kemerdekaan sekadar pergantian penguasa kapitalis: dari kapitalisme asing (Belanda, dsb) menjadi kapitalisme bangsa sendiri.
Menurut Bung Karno, sosio-demokrasi adalah demokrasi yang menghendaki kedaulatan (kekuasaan) rakyat baik di bidang politik maupun di bidang ekonomi. Demokrasi politik dan demokrasi ekonomi, itulah sosio-demokrasi.dalam masyarakat-masyarakat kapitalis berlakulah demokrasi politik. Wujudnya adalah pemilihan umum, di mana sekian tahun sekali rakyat memberikan suara untuk memilih orang-orang yang akan mewakili mereka di parlemen. Saat ini, di Indonesia juga begitu. Ada pemilihan anggota legislatif (pileg), ada pemilihan presiden dan wakil presiden (pilpres), di samping pemilihan-pemilihan gubernur dan bupati atau walikota. Jadilah, anggota-anggota DPR/DPRD pilihan rakyat, presiden-wapres, gubernur-wagub, walikota-wawali, dan bupati-wabup “pilihan” rakyat.
   Satu tatanan masyarakat yang anti kapitalisme, anti feodalisme, anti kolonialisme dan imperialisme, anti militerisme dan fasisme. Kesenjangan antara kaum kaya dengan kaum miskin tidak terlalu lebar. Masyarakat tidak bergaya hidup konsumtif, menolak hedonisme. Mereka siap bekerja keras hidup hemat dan sederhana, rukun dalam gotong royong, dan menjunjung etika budaya bangsa yang bernilai luhur. Kini, mimpi-mimpi seperti itu sudah hampir tak mungkin dapat diwujudkan karena pemimpin-pemimpin bangsa sejak era Orde baru hingga Era reformasi telah menggadaikan kekayaan bagsa ini kepada kaum kapitalis. Indonesia yang miskin, rusak lingkungan alamnya, kekayaan alamnya dijarah kekuatan asing, dan rakyatnya terpuruk dalam kemelaratan, (eterbelakangan, dekadensi moral, perpecahan antar suku agama dan golongan... erah putih semakin lunglai berkibar, indonesia Raya semakin sayup-syup meninggalkan kita...Akhimya Indonesia hilang dari peta dunia. Satu hal yang bisa menyelematkan negeri ini, yaitu bangkitnya semangat Sosialism Indonesia, bersatu padu, rawe-rawe rantas
Sosialisme Indonesia berisi perpaduan yang selaras dari unsur-unsur Keadilan Sosial dan unsur-unsur Indonesia seperti yang tergambar pada asas gotong royong dan kekeluargaan yang merupakan ciri-ciri pokok dari pada kepribadian Indonesia.
Dalam melaksanakan Keadialan Sosial yang berlandaskan Gotong Royong dan Kekeluargaan. Tujuan yang dikejar dan yang harus dilaksanakan dari sosialisme Indonesia ini adalah Kesejahteraan Bersama, dimana terdapat kemakmuran materiil dan spiritual dalam bentuk kekayaan umum badaniah dan rohaniah melimpah serta pembagian yang rata dan sesuai dengan sifat-sifat masing-masing warga dalam keluarga Bangsa Sosialisme Indonesia.
Mengajarkan dalam bidang politik untuk tercapainya negara Indonesia yang panjang dan luas kemahsyurannya serta tinggi unggul martabat dan kewibawaannya, dimana rakyat dan pemerintah bersatu padu untuk mewujudkan kesejahteraan bersama.
Dalam bidang ekonomi, sosialisme Indonesia mengejar terwujudnya suatu tata perekonomian yang disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan, dimana pemerintah dan rakyat atau negara dan swasta bekerja bersama saling isi mengisi untuk menjalankan produksi dan distribusi guna mewujudkan kekayaan umum yang berlimpah serta pembagian yang adil dengan aberpedoman vahwa kemakmuran masyarakat lah yang harus senantiasa diutamakan dan bukan kemakmuran perorangan pribadi saja.
sosialisme indonesia lebih berusaha menyeimbangkan antara milik individu dan milik bersama. Meskipun pada dasarnya menentang penindasan dan berjuang agar kekayaan yang ada di dunia ini dipergunakan untuk kesejahteraan umum, sosialisme Pancasila tetap menghormati hak milik individu. Jadi ada keseimbangan antara kepentingan umum dan kepentingan indiVidu. Meskipun rumusan iain dan bentuk pengejawantahannya masrh perlu dicarikan wujud yang tepat, bentuk sosialisme Pancasila di bidang ekonomi dapat dijumpai dalam Undang- undang Dasar 1945, yang biasanya diistilahkan sebagai sistem kekeluargaan, yaitu pasal 33 UUD 1945

Penjelasan UUD 1945 lebih lanjut menegaskan, antara lain, bahwa kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan, bukan kemakmuran orang-seorang. Oleh sebab itu, perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan. Negara, koperasi, dan swasta bertanggung jawab ataSjalannya perekonomian bangsa Rumusan demokraSI ekonomi dalam Garis garis Besar Haluan Negara semakin memperjelas arah sosialisme Pancasila Di dalam GBHN itu, antara lain, disebutkan bahwa
 (1) perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan;
(2) cabang-cabang produkSi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara;
 (3) bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk kemakmuran rakyat sebesar-sebesarnya;
(4) sumber sumber kekayaan dan keuangan negara digunakan dengan permufakatan lembaga-lembaga perwakilan rakyat, serta pengawasan terhadap kebijaksanaannya ada pada lembaga-lembaga perwakilan rakyat pula,
 (5) warga negara mempunyai kebebasan dalam memilih pekerjaan yang dikehendaki serta mempunyai hak akan pekerjaan dan penghidupan yang layak,
(6) hak milik perorangan 'liakui dan pemanfaatannya tidak boleh bertentangan :lengan kepentingan masyarakat;
(7) potensi, inisiatif, dan daya kreasi setiap warga negara rliperkembangkan Sepenuhnya dalam batas – batas



BAB 3 PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Sosialisme sebagai kekuatan besar baru lahir dalam revolusi industri yang muncul dalam gerakan protes. Sebagai filsafat politik, ia timbul dengan melepaskan diri dari sistem ekonomi kapitalisme yang mendukung kredo liberalisme. Kapitalisme abad 19 adalah ekploitasi kasar dan persaingan tanpa batas. Ketidakpuasan dan pergolakan sosial yang ditimbulkan tercermin dalam mazhab sosialisme utopis dan marxism ( Schman ,2002 : 571 )
Rakyat Indonesia selain menguasai bidang pertanian dan perdagangan juga menguasai di bidang pertukangan dan pertambangan. Hal tersebut merupakan masa kejayaan dan kemakmuran Indonesia sebelum datangnya kolonialisme. Sebelum datangnya penjajah ke Indonesia, kehidupan masyarakat Indonesia makmur dan merupakan masa kejayaan baik dalam sandang maupun pangan. Namun setelah penjajah datang ke Indonesia kehidupan masyarakat di Indonesia berubah yang dari awalnya makmur, menjadi kekurangan dan menderita kelaparan. Dan' hal itulah lahir suatu pergerakan kebangsaan dan cita-cita sosilisme untuk memberantas penderitaan.



DAFTAR PUSTAKA
Agung , Leo . 2013 . Sejarah Inteletual . Yogyakarta : Ombak
Ebstein , wilian . 1965 . Isme – Isme Dewasa Ini , Djakarta: Swada
Setiadi , Ali M . 2003 . Pendidikan Pancasila . Bandung . Gramedia Pustaka



Rabu, 16 Maret 2016

MALAYSIA; SINGAPURA;BRUNAI DARUSSALAM (AWAL IMPERIALISME INGGRIS HINGGA KEMERDEKAAN BRUNAI DARUSSALAM)

BAB 1. PENDAHULUAN


1.1.   Latar Belakang
Malaysia adalah sebuah negara federasi yang terdiri dari tiga belas negara bagian dan tiga wilayah persekutuan di Asia Tenggara dengan luas 329.847 km persegi. Ibukotanya adalah Kuala Lumpur, sedangkan Putrajaya menjadi pusat pemerintahan persekutuan. Jumlah penduduk negara ini melebihi 27 juta jiwa. Negara ini dipisahkan ke dalam dua kawasan — Malaysia Barat dan Malaysia Timur — oleh Kepulauan Natuna, wilayah Indonesia di Laut Tiongkok Selatan. Malaysia berbatasan dengan Thailand, Indonesia, Singapura, Brunei, dan Filipina. Negara ini terletak di dekat khatulistiwa dan beriklim tropika. Kepala negara Malaysia adalah Yang di-Pertuan Agong dan pemerintahannya dikepalai oleh seorang Perdana Menteri.
Malaysia sebagai negara persekutuan tidak pernah ada sampai tahun 1963. Sebelumnya, sekelompok koloni didirikan oleh Britania Raya pada akhir abad ke-18, dan bagian barat Malaysia modern terdiri dari beberapa kerajaan yang terpisah-pisah. Kelompok wilayah jajahan itu dikenal sebagai Malaya Britania sampai pembubarannya pada 1946, ketika kelompok itu disusun kembali sebagai Uni Malaya . Karena semakin meluasnya tentangan, kumpulan itu lagi-lagi disusun kembali sebagai Federasi Malaya pada tahun 1948 dan kemudian meraih kemerdekaan pada 31 Agustus 1957 .
Singapura nama resminya Republik Singapura, adalah sebuah negara pulau di lepas ujung selatan Semenanjung Malaya , 137 kilometer (85 mil) di utara khatulistiwa di Asia Tenggara . Negara ini terpisah dari Malaysia oleh Selat Johor di utara, dan dari Kepulauan Riau , Indonesia oleh Selat Singapura di selatan. Singapura adalah pusat keuangan terdepan keempat di dunia dan sebuah kota dunia kosmopolitan yang memainkan peran penting dalam perdagangan dan keuangan internasional. Pelabuhan Singapura adalah satu dari lima pelabuhan tersibuk di dunia .
Pada 28 Januari 1819, Thomas Stamford Raffles mendarat di pulau utama di Singapura. Setelah melihat potensinya sebagai pos dagang strategis untuk kawasan Asia Tenggara, Raffles menandatangani perjanjian dengan Sultan Hussein Shah atas nama Perusahaan Dagang Hindia Timur Britania pada tanggal 6 Februari 1819 untuk mengembangkan bagian selatan Singapura sebagai pos dagang dan permukiman Britania.
Brunei Darussalam adalah negara berdaulat di Asia Tenggara yang terletak di pantai utara pulau Kalimantan. Negara ini memiliki wilayah seluas 5.765 km² yang menempati pulau Borneo dengan garis pantai seluruhnya menyentuh Laut Cina Selatan. Wilayahnya dipisahkan ke dalam dua negara bagian di Malaysia yaitu Sarawak.
Pada Tahun 1839, James Brooke dari Inggris datang ke Serawak dan menjadi raja di sana serta menyerang Brunei, sehingga Brunei kehilangan kekuasaannya atas Serawak. Sebagai balasan, ia dilantik menjadi gubernur dan kemudian "Rajah" Sarawak di Barat Laut Borneo sebelum meluaskan kawasan di bawah pemerintahannya. Pada tanggal 19 Desember1846, pulau Labuan dan sekitarnya diserahkan kepada James Brooke. Sedikit demi sedikit wilayah Brunei jatuh ke tangan Inggris melalui perusahaan-perusahaan dagang dan pemerintahnya sampai wilayah Brunei kelak berdiri sendiri di bawah protektorat Inggris sampai berdiri sendiri tahun 1984.




1.2. rumusan masalah
Dari latar belakang di atas, dapat di tarik sebuah rumusan masalah dalam pembahasan makalah makalah ini diantaranya:
1.2.1 Bagaimana awal mula masuknya bangsa asing ke Malaysia, Singapura, dan Brunei?;
1.2.2 Bagaimana masa imperialisme Inggris di Malaysia, Singapura, dan Brunei?;
1.2.3 Bagaimana Proses tercapainya kemerdekaan di Malaysia, Singapura, dan Brunei hingga        Modernisasi ?;
1.2.4 Bagaimana Kondisi Politik, Ekonomi, dan Sosial Budaya Malaysia, Singapura, Brunei?.

1.3. Tujuan Penulisan
 Adapun tujuan yang akan dicapai dalam makalah ini, antara lain adalah:
1.3.1 Untuk mengetahui awal mulanya masuknya bangsa asing ke Malaysia, Singapura, dan Brunei;
1.3.2 Untuk mengetahui masa imperialisme Inggris di Malaysia, Singapura, dan Brunei;
1.3.3 Untuk mengetahui proses tercapainya kemerdekaan di Malaysia, Singapura, dan Brunei sampai Modernisasi;
1.3.4 Untuk mengetahui Kondisi Politik, Ekonomi, dan Sosial Budaya Malaysia, Singapura, Brunei.




BAB 2. PEMBAHASAN

2.1 Awal mula masuknya imperialisme di Malaysia
Pertarungan segitiga antara Johor, Aceh dan Malaka, Portugis untuk menguasai Selat Malaka terus bertahan sampai abad ke-17. Karena Portugis tidak memiliki surnber daya atau pun keinginan untuk mendominasi kedua Sisi Selat Malaka, Aceh-yang semakin berani setelah datangnya kekayaan baru dari para saudagar muslim yang memanfaatkan pelabuhan-pelabuhannya setelah jatuhnya, Malaka muncul sebagai pesaing kuat Johor dalam meraih hegemoni di negeri Melayu.
Pada 1564 Aceh merebut kernbali Aru (yang sebelumnya jatuh ke tangan Johor pada 1540) dan menghancurkan ibukota Johor, di Johor Lama. Seluruh keluarga kerajaan dilarikan ke Aceh kecuali putra Sultan yang memerintah Johor sebagai negara vasal. Pada 1570 tim Aceh kernbali mernporakporandakan Johor Lama setelahJohor berupaya melepaskan diri. Aceh juga meluncurkan serangan balasan terhadap Johor pada 1613 dan 1623.Ambisi besar Aceh berujung bentrokan dengan Portugis di Malaka selama abad ke-16 dan ke-17 yang akhirnya mendorong Portugis dan Johor bersatu, sama seperti pada 1582 ketika Portugis membantu Johor menghadapi serangan Aceh. Federasi ini bubar pada 1587 sewaktu Johor menyerang Portugis. Penyerbuan Aceh ke malaka berbuntut insiden pengepungan pada 1627 yang bertahan selama dua tahun sebelum sebuah armada dari Goa menggempur pasukan Aceh. Peristiwa ini menandai penurunan Aceh .Kekuatan Portugis juga mulai mengendur pada dekade-dekade awal abad ke-17. Pada 1640 Malaka Portugis kembali diblokade-kali ini oleh VOC, Belanda. Tim VOC merebut Malaka pada Januari 1641 dengan bantuan sekutu barunya, Johor. (Ricklefs, 2013: 231-232)
Didukung kekuatan aliansinya dengan VOC dan perjanjian damai dengan Aceh yang dimediasi Belanda pada 1641, Johor berupaya mendapatkan kembali posisinya di masa lalu. VOC memprioritaskan penguatan basis kekuatannya di Jawa dan Maluku; tidak berambisi atas wilayah yang kuat di Sumatera atau Semenanjung Melayu kecuali Malaka. . Johor berhasil menguasai kerajaan Sumatera bagian timur, yaitu Siak (1662) dan Indragiri (1669) serta membuat Pahang kembali ke pangkuannya namun gagal menguasai negara-negara Melayu utara.
Kebangkitan kembali Johor terhenti sejenak setelah negara Sumatera timur yang baru muncul, Jambi, menjarah dan meluluhlantakkan Johor Lama pada 1673. Peristiwa ini memaksa dipindahkannya ibukota ke Riau. Perang Johor-Jambi ini berakhir pada 1679 dengan kernenangan di pihak Johor. Johor pun kembali memposisikan diri sebagai kekuatan tertinggi di Selat Malaka. Sayang sekali, tak butuh waktu lama bagi Johor terlempar dari posisinya akibat intrik dalam.
Sementara itu, pemerintah-pemerintah lain seperti Negeri Sembilan memproklamirkan kemerdekaannya tatkala kekuasaan imperium Riau-Johor melemah. Keberadaan VOC menjadi jalan buntu bagi kebangkitan Melayu modern yang mengikuti model Malaka lama meskipun pada dasarnya VOC tetap berusaha bersikap netral dalam menanggapi konflik lokal. VOC hanya melakukan sedikit intervensi pada 1756-1757 'untuk membendung ancaman Bugis terhadapperdagangan maritimnya dan pada 1759-1761 menghancurkan pemberontakan orang-orang Melayu di Siak.
Pada akhir abad ke-18 persaingan dengan Inggris yang kembali terjadi ditambah kekhawatiran atas persekutuan Melayu dengan EEIC memaksa Belanda untuk menerapkan tindakan restriktif yang berakhirdengan direbutnya Riau pada 1784 dan diusirnya orang Bugis dari Riau dan Selangor. Harapan akan kebangkitan kembali ekonomi dan politk Melayu seketika hancur akibat keputusan EEIC mendirikan pelabuhan di Penang (1786) dan Singapura (1819) serta disepakatinya Perjanjian Britania-Belanda di London (Traktat London) pada 1824. Perjanjian ini membagi Imperium Riau-Johor menjadi 'wilayah kekuasaan' Inggris dan Belanda. Inggris mendapatkan Singapura dan SemenanjungMalaya termasuk Malaka, sementara Belanda mendominasi Sisi lain Selat Malaka khususnya Sumatera. Konsolidasi lanjutan terhadap posisi Inggris mengikuti format Straits Settlements (Negeri-negeri Selat), yaitu Penang, Malaka dan Singapura. ( Ricklef, 2013: 234)

2.2 Awal Imperialisme di Singapura
            Pada 28 januari 1819 Rafles menyewa singapura pada sultan Johor. Tapi menimbulkan ketegangan dengan Belanda maka diselesaikanlah dengan Traktat London (1824), semenjak itu Singapura resmi menjadi wilayah kekuasaan Inggris. Tahun 1826 pulau Pinang, Malaka dan Singapura disatukan Inggris dalam satu wilayah kekuasaannya yang disebut Straits Settlements (Wilayah pemukiman selat Malaka) yang berbasis di pulau Pinang, kemudian dipindahkan ke Singapura tahun 1832.
Wilayah kekuasaan Inggris ini menjalankan pemerintah secara langsung dan daerah ini merupakan basis Inggris untuk meluakan daerah kekuasaannya ke pedalaman. Tak jauh beda dengan Malaysia, Singapura menjadi jajahan Inggris setelah perjanjian yang dilaksanakan dengan Belanda. Pada masa 1824 sampai 1867 ini Singapura  tumbuh dengan mengagumkan cepatnya, Penang  berkembang dengan lamban dan Malaka  terhenti, pada masaini kompeni sama sekali tidak mempunyai niatan untuk menambah daerah kekuasaan mereka. Tapi saat itu keadaan negara-negara melayu sedang kronis dan mereka tidak mampu membuat negerinya tentram oleh karena itu campur tangan kompeni tidak bisa dihindari.
               Singapura dalam waktu singkat membenamkan pamor dua Negeri lainnya dan menjadi entrepot terkemuka di kawasan ini. Pelabuhan Malaka didera pendangkalan sementara lokasi Penang di ujung utara Malaka membuatnya terlalu jauh dari rute perairan utama yang melayani jaringan perdagangan regional serta rute perdagangan Jarakjauh ke Cina. Dengan pelabuhan yang dalam—sehingga tempat berlabuhnya terlindung—disertai lokasi geografis yang ideal di ujung paling selatan daratan Asia, Singapura tidak hanya mendominasi akses Ke Selat Malaka dan Selat Sunda tetapi juga jalur menuju Laut Cina Selatan, Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Singapura adalah titik pertemuan kapal-kapal antarsamudera dan kapal-kapal regional yang berlayar antara India dengan Cina melalui Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Lombok dan Selat Makassar. (Ricklef, 2013:321)


2.3 Awal imperialisme di Brunei Darussalam

               Pertengahan abad ke 19 menjadi peringatan 2 abad kemunduran kesultanan Brunei sejak zaman keemasannya pada paruh pertama abad ke 16. Ketika itu, desentralisasi perdangangan Malaka sukses jatuh ke tangan Portugis pada 1519 berkontribusi langsung pada pertumbuhan Brunei sebagai entreport perdagangan, lokasi strategis terletak pada rute perdagangan maritim antara Cina dengan kepulauan bagian barat.
               Saat kejayannya Brunei mengklaim kedaulatan atas Borneo (Kalimantan bagian utara dan barat). Pengaruhnya tersebar sampai kepulauan Sulu dan wilayah-wilayah lain di Filiphina. Sayangnya, ketika Spanyol mulai menguasai Filiphina sejak akhir abad ke 16, pengaruh Brunei pun ikut menyusut. Selama dua abad kemudian Kesultanan didera konflik sipil dan perebutan singgasana kerajaan, sementara aktifitas perdagangan Belanda dan Inggris kian melemahkan basis kekuatan ekonomi dan politik Brunei. Sarawak diserahkan pada petualang Inggris James Brooke yang menjadi "raja putih" pertama disana pada 1842. Gelar ini merupakan imbalan atas bantuannya memadamkam pemberontakan local. Sejak 1881 Borneo utara dikelola British Nort Borneo Chartered Company. Sepanjang 1853-1888 Serawak dan Borneo utara memperluas wilayahnya secara bertahap yang memperkecil wilayah Brunei. Pada 1888 di proklamasikan sebuah proktektorat Inggris yang mecakup ketiganya. (Ricklef, 2013: 234-235)
              

2.4 Masa Imperialisme Inggris di Malaysia
Dari sejak didapatkanya pulau penang sampai kesepakatan Inggris dengan Belanda karena takut akan serangan ancaman dari luar maka sultan Abdullah menawarkan pulau Penang kepada Inggris agar pihak Inggris mau membantu mereka jika Kedah diserang musuh.Lalu pihak Inggris mengirimkan Francis Light untuk berkonsultasi dengan Kedah, maka setelah konsultasi disepakatilah perjanjian antara Inggris dan Kedah perjanjian itu disebut perjanjian Inggris Kedah perjanjian tersebut berisisi:
1.                  EIC siap membantu Kedah jika Kedah diserang musuh.
2.                  EIC tidak dapat melindungi musuh Kedah.
3.                  EIC akan membayar 30000 dolar Spanyol setahun bagi sultan sebagai kompensasi. (Ganti rugi perang)
4.                  Kedah mengizinkan EIC menduduki Pulau Penang

Pada 11 agustus  pulau penang secara resmi diambil Inggris  dan dinamakan pulau pangeran wales, Pada tahun 1786, Siam telah menakluki Patani dan mengancam Kedah. Karena takut seranagan kerajaan Siam, Sultan Abdullah (Kedah) menuntut bantuan dari EIC seperti yang terdapat dalam Perjanjian Inggeris-Kedah 1786.Tapi EIC enggan membantu Kedah karena menjaga kepentingan dagang dengan siam, karena dianggap tidak menepati janji maka sultan mendesak Francis Light untuk meninggalkan Penang , namun ia enggan meninggalkan Penang  dan menawarkan ganti rugi tetapi ditolak oleh sultan.
Pada 1791 sultan menyiapkan angkatan lautnya untuk mengambil pulau Penang  namun Francis Light meminta bantuan Inggris  untuk menyerang armada sultan itu, pada serangan itu Kedah dapat dikalahkan dan terpaksa menandatangani perjanjian persahabatan dan keamanan Inggris -Kedah pada 1 mei 1791. EIC menduduki pulau Penang  secara resmi, sebagai imbalan EIC akan membayar sebanyak 6000 dolar Spanyol per tahun kepada sultan. Dibawah Francis Light Penang  yang baru diduduki itu berkembang dengan cepat, para imigran mengalir, sistem perdagangan bebas diberlakukan dan menjadikan Penang menjadi pusat distribusi yang berharga.
Penang  merupakan tempat perdagangan yang ramai, pada tahun 1789 jumlah nilai expor dan impornya mencapai 853,592 dollar Spanyol dan lima tahun kemudian menembus hampir dua kali lipat angka , pada saat pemerintahanya Light mengusahakan penanaman rempah-rempah, penanaman cengkeh, pala dan kayu manis namun gagal. Tetapi dengan semangatnya dan bantuan keuangan dari orang China penanaman merica di Penang sukses besar. Pada waktu itu Penang  tidak mampu menghasilkan bahan pangan bagi penduduknnya yang semakin banyak,  tahun 1807 hukum sipil dan kriminal Inggris  diperkenalkan di Penang  dan prosedur pengadilanya harus disesuaikan dengan keagamaan pribumi dan sesuai dengan jiwa hukum Inggris .
Pada awal abad ke 19 Inggris telah mengukir pijakan di semenanjung Malaya koloni mereka di Penang, Malaka dan Singapura, hal ini dikarenakan dengan adanya Perjanjian Inggris dan Belanda tahun 1824. Perjanjian ini ditandatangani di London, yang secara garis besar berisi: Belanda tidak akan mengganggudan mengatur Malaya sebagai wilayah pengaruh Inggris, menarik semua keberatannya atas pendudukan Singapura, menyerahkan Malaka dan berjanji tidak akan melakukan pendudukan apapun di semenanjung Melayu atau menandatangani perejanjian apapun dengan raja-raja setempat. Inggris menyerahkan pada Belanda, Bengkulu dan semua milik kompeni India Timur di Sumatera. Dan tidak akan melakukan perjanjian apapun serta membuat kesepakatan apapun dengan raja-raja setempat. (DGE Hall,: 486)
Ancaman yang terus   ada sejak ekspansi Siam pada abad ke-17.  di Malaya utara dan pusat diredam oleh Perjanjian Inggris-Siam 1826. dalam perjanjian ini, Inggris mengakui kedaulatan Siam atas Kedah (dan sejak 1841, Perlis), Kelantan dan Terengganu sebaliknya Siam secara tersirat rnengakui pengaruhInggris terhadap negara-negara Melayu Iain nya. ( Ricklef, 2013: 277).
Inggris cukup puas dengan mempertahankan ketiga Negeri Selat di pinggiran semenanjung yang berfungsi sebagai entrepot produk-produk import dan regional (termasuk berbagai barang yang berasal dari negara-negara Malaya ) sekaligus sebagai pintu masuk para pedagang asing, imigran Cina (dan kelak pekerja India yang mempercepat pembangunan ekonomi semenanjung secara umum Inggris menghindari intervansi colonial. Sejak pertengahan abad hubungan antara ketiga Negeri Selat dengan negara-negara Melayu mulai berubah secara signifikan. Ketika kekuatan-kekuatan ekonomi baru mendekatkan kedua belah pihak, kekuatan-kekuatan tersebutjuga menimbulkan ketegangan nyang tidak dapat ditolak. Pada 1840-an, seiring meningkatnya permintaan timah dari negara-negara industri Barat, para pedagang Cina Selat—seringkali bekerjasama dengan para kepala negara Malaya yang berseteru—mulai melakukan investasi pertambangan timah di negara-negara Malaya Barat. Upaya menggagalkan koalisi Malaya-Cina guna mengambil alih wilayah dan pendapatan segera menimbulkan gangguan keamanan sipil di Kiang (Selangor), Larut (Perak) dan Sungai Ujung (Negeri Sembilan).Situasi ini mebuat Inggris mengubah kebijakan intervensi mereka.
Didukung para pedagang Selat, Gubernur Inggris baru Sir Andrew Clarke langsung mengambil tindakan di saat kedatangannya pada November 1873. Antara Januari—April 1874 ia membatalkan kebijakan non-intervensi yang telah lama ada dan menjadikan Perak, Selangor dan Sungai Ujung berada di bawah kekuasaan Inggris dengan memaksa setiap penguasanya menandatangani perjanjian dengan Inggris. Kendati Inggris memadamkan pernberontakan pada Mei 1876 dan berhasil memadamkan beberapa pemberontakan kecil di Sungai Ujung serta upaya pemberontakan di Selangor, perlawanan-perlawanan ini menjadi alasan untuk menghentikan 'gerak maju' Inggris. Gerak maju ini baru dilanjutkan kembali pada 1880-an dengan diperluasnya sistem residen ke Negeri Sembilan (1887) dan Pahang (1888). Di sana, Inggris kembali menghadapi perlawanan sporadis Melayu sepanjang periode 1891-1895 )(Ricklef, 2013:278).
Pada Juli 1896 konsolidasi kekuasaan Inggris di Semenanjung Malaya tercapai dengan bersatunya Perak, Selangor, Negeri Sembilan dan Pahang di bawah Federated Malay States (FMS, Negeri-negeri Melayu Bersekutu), Kenyataannya, hanya Negara-negara selat yang resmi rnenjadi koloni Inggris. FMS dan Unfederated Malay States (UMS, Negeri- Negeri Melayu Tidak Bersekutu) secara hukum tetap berstatus Kerajaan Melayu berdaulat dan merdeka berdasarkan perjanjian-perjanjian mereka dengan Inggris. (Ricklef, 2013: 278-279)
Imigran Cina menjadi tulang perekonomian kolonial di Malaya, orang Cina rnenjadi pemain kunci dalam perputaran uang di Negeri-negeri Selat (mereka berperan sebagai pekerja, pedagang, pengusaha dan profesional) dan juga negara-negara Melayu (di sini, mayoritas dari mereka terjun dalam industri timah). Itu sebabnya, gelombang migrasi Cina dibiarkan begitu saja mernbanjiri Malaya hingga awal abad ke-20. Pada 1891 lebih dari separuh total populasi Selangor adalah orang Cina, namun Inggris akhirnya menyadari orang Cina—tidak seperti orang Melayu menyusahkan dan sulit diatur kecuali oleh kalangan mereka sendiri. Jika orang Cina bermigrasi melalui jaringan komunal mereka sendiri, migrasi masyarakat India dibantu Inggris demi mencapai kemajuan pertanian komersial.
Memerintah komunitas Cina yang besar menjadi tantangan tersendiri bagi Inggris. hampir sepanjang abad ke-19 para pemimpin Cina yang diakui di Malaya adalah kepala perkurnpulan rahasia. Karena besarnya sumber daya manusia dan finansial yang mereka miliki, para kepala perkumpulan rahasia yang lebih kuat kadang kala memiliki profesi yang lebih terhormat. Kebanyakan dari mereka kernudian berperan sebagai pemimpin komunitas filantropi dan pedagang kaya.
Kualitas politik dan pengaruh membuat mereka menjadi rekan bisnis dan sekutu politik yang paling banyak dicari oleh para ketua adat Melayu, yang mengangkat mereka sebagai anggota Dewan Negara dan menugaskannya mengelola populasi Cina lokal di negara bagiannya. Pengaruh perkumpulan rahasia terhadap populasi Cina begitu kuat. 'Pihak berwenang Inggris seringkali merasa perlu mentoleransi eksistensinya. Inggris bahkan tidak segan meminta bantuan para pemimpin perkumpulan ini untuk memulihkan ketertiban pasca terjadinya kerusuhan yang melibatkan geng-geng Cina yang saling Menghadapi tantangan untuk memerintah komunitas Cina yang relatif heterogen, tidaklah mudah. Namun perebutan kekuasaan yang membabibuta dan kerusuhan di antara kelompok masyarakat rahasia Cina yang berseteru banyak terjadi. Perkurnpulan-perkumpulan rahasia yang terus berkembang selama abad ke-19—menciptakan kondisi anarkis yang seringkali mengancam stabilitas kekuasaan Inggris di Malaya. Pada 1890 Inggris membekukan seluruh masyarakat rahasia di Malaya. ( Ricklef, 2013: 282-283)
Negeri-negeri Selat dan Malaya Inggris
Di Malaya, upaya Inggris melakukan sentralisasi pernerintahan pada akhir abad ke-19 awalnya berupaya mernperkuat hubungan antara dua 'blok' wilayah mereka yang sudah ada—Negeri-negeri Selat dan FMS, Namun, sejak pembentukan Federasi, Kantor Urusan Koloni mencatat adanya tanda-tanda mengkhawatirkan bahwa FMS dan Koloni bergerak menjauh dan 'berpotensi berjalan sendiri-sendiri- Negeri- negeri Selat dan FMS sama-sama menjadi pemangku kepentingan dalam ekonomi berorientasi ekspor, Tak heran, keduanya terbilang makmur dan berkembang menjadi pusat ekonomi yang saling bersaing.
Residen Jenderal di Kuala Lumpur membayangkan dirinya mengepalai unit pemerintahan FMS terpisah yang hanya memiliki hubungan terbatas dengan Singapura, sementara Gubernur Komisioner Tinggi di Singapura merasa bahwa ia bertanggung jawab untuk melaksanakan kewenangannya terhadap seluruh Malaya, bukan hanya Negeri-negeri Selat melainkan juga FMS dan negara-negara Melayu lainnya.
              
Ketika bapak federasi dan orang tua di Malaya Sir Frank Swettenham menjadi Residen Jenderal sejak 1896-1900, Kuala Lumpur mampu menjaga FMS sejauh mungkin dari kontrol Singapura. Situasinya berbalik ketika Sir John Anderson menjabat Gubernur Komisioner Tinggi sejak 1904-1911. Anderson berrnaksud menghilangkan gagasan bahwa Residen Jenderal adalah 'kepala pemerintahan terpisah yang semi-independen' dengan menegaskan kewenangan Singapura terhadap FMS. la juga menghilangkan keraguan bahwa Residen Jenderal hanyalah penasihat utama dan juru bicara Komisioner Tinggi di FMS. Sebagai Ketua Dewan Federal yang dibentuknya pada 1909 Anderson melenyapkan segala pretensi yang menunjukkan bahwa Residen Jenderal adalah kepala pemerintahan FMS terpisah. Pada 1910, atas usulannya, jabatan Residen Jenderal diubah menjadi Sekretaris Kepala untuk menunjukkan posisinya di bawah Komisioner Tinggi-sama seperti Sekretaris Koloni yang menduduki jabatan di bawah Gubernur di Negeri-negeri Selat. (Ricklef, 2013: 432-433)
  Konsepsi federasi Pan-Malaya yang terdiri dari semua Negara Melayu-diperluas untuk menyertakan lima Negara yang tercangkup dalam Unfederated Malay States (UMS, negeri-negeri Melayu tidak bersukutu) yaitu Kedah, Kelantan, Perlis, Trengganu dan Johor.UMS yang lebih otonom menolak untuk bergabung dengan FMS. Inisiatif Inggris pada 1920 dan 1930-an berubah menjadi “desentralisasi” yaitu ingin meloggarkan ikatan dalam FMS, dengan mengembalikan pemerintahanke tangan orang Melayu, sebagai bujukan bagi UMS.
Skema ini awalnya dilaksanakan oleh Sir George Maxwell yang menjabat sebagai Seketaris Kepala FMS(1920-1926), Maxwell menyarankan kekuasaan diserahkan dari kepala departemen federal kepada para Residen, tetapi hal itu menguap setelah seketari Kepala terlibat pertarungan sengit dengan Gubernur Komisioner Tinggi, mereka memperdebatkan siapa yang harus mengrahkan kebijakan desentralisasi di Negara-negara Melayu.
Pada 1925 Guillemard mengajukan rencana desentralisasinya sendiri. Inti rencananya adalah menghapuskan jabatan seketaris kepala dan menyerahkan kekuasaan yang sangat besara terhadap para residen dan dewan Negara. Hal ini juga gagal karena tidak mendapat dukungan. Dihapuskannya Sekretaris kepala aka mengalihkan kekuasaan eksekutif de facto di FMS kepada komisioner tinggi di Singapura. Akhirnya Gilmerd mengundurkan diri pada tahun 1927. Clementi yang menjadi Gubernur-Komusioner Tinggi (1930-1934) juga berambisius menyatukan kesembilan Negara Melayu dan koloni negeri-negeri selat. Clementi membangkitkan kembali kebijakan desentralisasi. Ia berniat membubarkan FMS agar dapat menempatkannya setara dengan UMS. Ia menghidupkan kembali seruan Guillemard, ia juga berupaya menciptakan uni revolusioner yang akan menyatukan wilayah-wilayah Inggris di Malaya dan Borneo. Hal ini mendapat perlawanan dari UMS dan FMS yang mengkhawatirkan rencana Clementi akan menghilangkan otonom dan status kedaulatannya. Mereka juga melihat dimasukkannya negeri-negeri Selat dan sentralisasi di Singapura sebagai kemajuan yang akan membuat kepentingan FMS dibawah kepentingan koloni juga menhilnagkan status pelabuhan bebas dan ekonomi dari entrepot koloni. Cita-cita Clementi juga menemui kegagalan.
Pandangan Orang Malaysia terhadap Bangsa Inggris
            Bisa dikatakan belum ada kesadaran nasionalisme Malaya bersatu karena orang Melayu tetap bisa hidup tenteram hal ini disebabkan sistem politik Inggris yang tidak terlalu membatasi orang-orang Melayu. Namun tidak seluruhnya persepektif local tidak reaktif terhadap perkembangan politik yang ada. Gerakan nasional dan Internasional India serta nasionalisme Indonesia, Pan Islamisme dan Komunisme secara aktif mengklaim telah mendapatkan dukungan dan kesetiaan dari berbagai komunitas di Malaya.
            Selama dekade-dekade awal abad ke-20, kesadaran politik Melayu dibangunkan oleh gerakan modernis Islam di Timur Tengah yang dibawa oleh pelajar Melayu yang menuntut ilmu di Mekkah atau Al Azhar. Mereka mengajak orang Melayu untuk mempelajari pendidikan Barat agar mengetahui perkembangan yang ada disekitar mereka. Hal ini memicu konflik doktrin antara kaum tua tradisionalis dan kaum muda modernis yang kemudian memunculakan pemahaman baru didalam diri mereka tentang posisi mereka dalam situasi Malaya. Pada pertenhgahan 1920an Modernisasi Islam di Malaya lebih bersifat politik daripada agama. Gerakan ini gagal mendapatkan dukungan karena hanya dipusatkan di perkotaan.
            Nasionalisme di melayu baru muncul pada masa antar kedua perang dunia, juga dipengaruhi oleh kecenderungan sayap kiri Nasionalisme Indonesia dan komunisme. Seperti Partai Nasionalisme Indonesia(PNI, Sukarno) serta melalui kontak pribadi dengan tokoh komunis Tan Malaka dan Alimin yang melarikan diri ke Malaya setelah gagalnya partai komunis melawan Belanda pada tahun 1926-1927. Terkobar cita-cita mendirikan Malaysia Raya ( melibatkan penyatuan Indonesia dan Malaya) para radikal ini termasuk Ibrahim Yacoob, Ishak Haji Muhammad Ahmad Boestaman dan Dr. Burhanuddin Al-Helim membentuk Kesatuan MalayaMuda (KMM) pada 1938 yang anti Inggris namun organisasi ini ditindas pada Oktober 1941, terlebih lagi kurangnya dukungan massa karena mayoritas orang Melayu yang lebih menyukai sistim kepemimpinan yang akrab dan tidak bersifat demonstratif.
2.5 Masa Imperialisme di Singapura
            Perluasan pengaruh Inggris di daerah selat Malaka dan di daratan Semenanjung Melayu, diluncurkan dari daerah Straits Settlement, yaitu daerah daulat Inggris yang meliputi Penang, Dinding, Malaka dan Singapura. Yaitu kesatuan yang memiliki pemerintahan sendiri yang semula berpusat di Penang yaitu Inggris yang tertua, tetapi pindah di Singapura tahun 1932 sempai memperoleh kemerdekaannya. Yang mendapat straits settlement adalah English East India Company (berbasis di India dan bukan pemerintahan Inggris karena itu yang berdaulat adalah straits settlement.
Tahun 1858, Inggris East Company dibubarkan karena dianggap tidak layak jika suatu badan swasta semacam EIC itu memeritah suatu kerajaan besar seperti India. Alibat dibubarkannya EIC, Singapura dan daerah lain di selat Malaka yang bergabung dalam Straits menjadi jajahan Inggris. Pada 1867 dijadikan Crowncollony, yaitu jajahan yang diurus oleh mahkota oleh raja dan bukan oleh pemerintah kerajaan. Straits Settlement adalah British Teritory semua orang dari mana saja yang dilahirkan dalam Straits Settlements diannggap sebagai Warga Negara Inggris yang wajib dilindungi Inggris. Perluasan Inggris atas raja-raja Melayu tidak dengan kekerasan tetapi dengan melakukan perjanjian-perjanjian. Akibat perjanjian tadi, tiap raja Melayu menerima residen Inggris sebagai penasehat dalam pemerintahan. Seseungguhnya residen Inggris inilah yang memerintahkan formilnya raja-raja Melayu tetap berdaulat dan formil Inggris tidak menjajah.
Setelah Semenanjung Melayu dibawah pimpinan Inggris, Singapura tetap sebagai Kota kolektor dan pembagi barang-barang. Ternyata Singapura ternyata merupakan tempat yang cocok untuk memasarkan minyak yang dikeluarkan dari Sumatera, Kalimantan, Belanda dan Serawak. Total hasil perdagangan meningkat 2000 ringgit sebelum Perang Dunia II. Karena perkembangannya yang menawan, maka London Imperial Conference di tahun 1921 memutuskan untuk menjadika Singapura yang tinggi mutunya. Dan dalam 1938 sudah selesai dibangun, dengan menelan biaya sebesar 20 juta pounsterling.

2.6 Masa Imperialisme di Brunei
            Pada 1839, petualang Inggris James Brooke sampai ke Kalimantan dan menolong Sultan Brunei menumpas sebuah pemberontakan. Pemberontakanyang cukup terkenalini  terjadi pada masa Sultan Omar Ali Saifuddin II. Sebagai imbalannya, ia menjadi gubernur dan kemudian "Rajah Putih" dari Sarawak di Kalimantan barat laut dan kemudian mengembangkan daerah kekuasaan di bawah pemerintahannya.Namun ternyataBrooke memiliki maksud tersembunyi, sejak menjabat sebagai gubenur, wilayahnya semakin diperluas secara bertahap. Bahkan ia pernah meminta pemerintah Inggris untuk meneliti seberapa besar potensi Brooke untuk dapatmenguasai Brunei, akan tetapi hasilnya mengecewakan. Rekomendasi dari pemerintah Inggris menunjukkan bahwa meskipun Brunei memiliki pemerintahyang sangat buruk, namun rakyatnya memiliki loyalitas dan identitas nasionalyang sangat tinggi sehingga peluang Brooke untuk menguasai Brunei kecil.Maksud tersembunyi ini akhirnya tercium juga oleh Sultan. Pada tahun1843 terjadi konflik terbuka antara Brooke dan Sultan yang berakhir dengankekalahan di pihak Brunei. Sultan akhirnya terpaksa mengakui kemerdekaanSerawak.
Lepasnya Serawak membuat gerakan Inggris menjadi semakin mudahkarena memiliki kawasan yang lebih strategis.Pada tahun 1846, Brunei Town diserang oleh pasukan Inggris. IbukotaBrunei tersebut ditaklukan dengan mudah oleh pasukan Inggris. Sultan SaifuddinII pun ditangkap dan dipaksa untuk menandatangani perjanjian untuk mengakhiri pendudukan Inggris atas kota Brunei. Pada tahun yang sama, Sultan Saifuddin IIkembali dipaksa untuk menandatangani Perjanjian Labuan yang berisi penyerahanLabuan kepada Inggris. Pada tahun 1847, Brunei menandatangani PerjanjianPerdagangan dan Persahabatan dengan Inggris. Pada tahun 1850, Brunei menandatangani perjanjian serupa dengan Amerika Serikat.Wilayah kekuasaan Brunei pun semakin mengecil, sedikit demi sedikitSultan dipaksa untuk menyerahkan wilayahnya kepada Serawak.
            Sultan Omar Ali safiuddin II mangkat pada tanggal 18 November 1852 dan digantikan oleh Pengiran Anak Abdul Momin ibnu Pengiran Shahbandar Pengiran Anak Abdul Wahab ibnu Sultan Omar Ali safiuddin I dan bergelar Sultan Abdul Momin. Sultan Abdul Momin memiliki keputusan bahwa ketika beliau nantinya turun tahta, maka Kesultanan Brunei tidak akan dipimpin oleh keturunannya melainkan kepada putera Sultan Omar Ali safiuddin II, yaitu Pengiran Anak Muhammad Salleh atau Pengiran Anak Hashim.

Pada tahun1877, Inggris juga memaksa Brunei untuk menandatangani perjanjian penyewaanlahan yang ada disebelah timur (kini bernama Sabah) kepada Perusahaan Borneo Utara milik Britania Raya. Wilayah Brunei yang awalnya begitu luas pun berubahmenjadi kecil mungil akibat dikikis oleh Inggris.Kekuasaan Brunei yang sangat terbatas membuatnya menjadi sangatlemah, akibatnya Brunei menjadi negara yang lemah dan tak berdaya
         Ketika Sultan Hashim Jalilul Alam Aqamaddin memerintah, pada tahun 1888 M diadakan perjanjian dengan Sir Hugh Low di pihak Pemerintah Inggris. Isi perjanjian adalah pernyataan bahwa Kesultanan Brunei berada dalam perlindungan Inggris, namun Pemerintah Inggris tidak berhak turut campur dalam urusan pergantian Sultan Brunei. Sementara itu, British North Borneo Company memperluas kekuasaannya di daerah Kalimantan timur laut. Pada 1888, Brunei menjadi negara lindungan pemerintah Britania Raya, dan meskipun tetap memegang otonomi namun di bawah kekuasaan Britania dalam hubungan luar negeri.
        Pada tanggal 3 Desember 1905 dan 2 Januari 1906, Sultan Hashim Jalilul Alam Aqamaddin kembali menandatangani perjanjian dengan Inggris yang diwakili John Anderson. Perjanjian tersebut berisi bahwa Kesultanan Brunei menerima pengangkatan seorang Residen di wilayah kekuasaan Kesultanan Brunei. Residen ini merupakan kepanjangan tangan dari pemerintahan Inggris, sehingga Kesultanan Brunei wajib menjamin keselamatan, menyediakan tempat tinggal yang layak, dan menjalankan segala masukan dari Residen tersebut, kecuali yang berhubungan dengan agama Islam. .Warga Inggris mulai dikirimkan untuk membangun Brunei. Sebuah kantor bea cukai dan pertanahan mulai dibangun, kepolisian Brunei juga mulai dibangun. Pada tahun 1911, Inggris juga mendirikan sekolah melayu.
           
            Pada bulan Mei 1906, Pengiran Muda Bongsu Muhammad Jamalul Alam naik tahta menggantikan Sultan Hashim Jalilul Alam Aqamaddin dan bergelar Sultan Muhammad Jamalul Alam II. Namun berhubung Sultan Muhammad Jamalul Alam II belum dewasa, maka jabatan Sultan dipangku oleh Pengiran Bendahara Pengiran Anak Muhammad ibnu Pengiran Anak Muhammad Tajuddin dan Pengiran Pemancha Pengiran Anak Anonim II ibnu Pengiran Maharaja Lela Pengiran Anak Abdul Kahar sampai tanggal 15 Mei 1918. Setelah Sultan Muhammad Jamalul Alam II telah dewasa, maka ia diangkat menjadi Sultan Brunei.
            Sultan Muhammad Jamalul Alam II mangkat pada tanggal 19 September 1924. Tahta Kesultanan Brunei beralih kepada Pengiran Muda Besar Ahmad Tajuddin bergelar Sultan Ahmad Tajuddin Akhazul Khairi Waddin. Pada tanggal tanggal 4 Juni 1950 Sultan Ahmad Tajuddin Akhazul Khairi Waddin mangkat sehingga tahta Kesultanan Brunei diserahkan kepada Pengiran Muda Tengah Omar 'Ali Saifuddien          
            Pengiran Muda Tengah Omar 'Ali Saifuddien naik tahta dan bergelar Sultan Omar' Ali Safiuddien Sa'adul Khairi Waddien atau Sultan Omar Ali Saifuddien III. Pada masa pemerintahan Sultan Omar Ali Saifuddien III diadakan perundingan dengan Inggris yang berisi disebut Perjanjian Konstitusi Bertulis Negeri Brunei.
            Kemakmuran Brunei mulai kembali terlihat sejak ditemukannya minyak di Seria pada tahun 1929.Pembangunan di Brunei sempat terhenti saat terjadi Perang Dunia Kedua. Brunei diduduki oleh Jepang pada tahun 1941-1945. Inggris tidak mampu mempertahankan Brunei dari serangan Jepang meskipun sebenarnya Inggris masih memiliki perjanjian protektorat dengan Brunei.


2.7 Proses kemerdekaan di Malaysia
            Nasionalisme orang-orang Cina Melayu didominasi oleh isu-isu dari luar, kehidupan politik orang Cina di Malaya secara bertahap mulai terbentuk setelah revolusi Cina. Cabang-cabang Goumindang (nasionalis, sun yat sen) banyak didirikan di Malaya. Saat Goumindang menyatukan front dengan Chinese Communist Party (CCP, partai komunis China) unsur-unsur Komunis juga masuk kedalam cabang-cabang Malaya. Komunis di Malaya kemudian membentuk partai NCP (Nanyang comunist party) yang diubah menjadi (malayan comunist party) pada 1930. MCP bertujuan untuk mengkomuniskan Malaya, MCP memperluas kegiatan anti Inggris menggunakan panggilan patriotisme Cina hal ini karena diskriminasi dari Inggris yang lebih menyukai keberadaan orang Melayu dalam departemen-departemen pemerintahan dan dalam pendidikan.
            pada tahun 1946 berdirilah organisasi yang bercita-cita untuk kemerdekaan semenanjung melayu (jazirah malaya). Nama organisasi tersebut adalah UMNO (united Mlay National Organization) yang kemudian berkembang sebagai partai yang terkuat dari kalangan orang-orang melayu. Sesudah perang dunia II jazirah Malaya berada dibawah pemerintahan militer Inggris straits settlement dibubarkan dan singapura menjadi koloni Inggris.
           
Setelah berakhirnya masa tugas pemerintahahn militer inggris struktur wilayah Negara bagian tanah melayu diatur kembali pada tahun 1949. wilayah semerawak akhirnya juga menjadi wilayah jajahan Inggris pada tahun 1946, tatkala raja terakhir menyerahkan wilayah itu kepada mahkota inggris. koloni itu diperintah seorang gubernur dibantu oleh sebuah dewan agung dan badan Legislatif yang dinamakan Dewan negeri.

Pada tahun 1948 gerombolan teroris Malaya meluncurkan tindakan kekerasan dan pembunuhan untuk melumpuhkan keadaan darurat perang. Setelah dua belas tahun berjuang, melawan kaum komunis tersebut, akhirnya pemerintah berhasil menguasai keadaan setelah menghancurkan sisa-sisa kaum komunis diwilayah perbatasan dengan Thailand. Kondisi darurat perang diakhiri tahun 1960 setelah Inggris terlebih dahulu memberikan kemerdekaan kepada federasi Persekutuan Tanah Melayu pada tanggal 31 Agustus 1957. Sebagai kepala Negara Federasi Federasi Malaya merdeka pertama adalah Tuanku Sir Abdul Rahman Ibni Almarhum Tuanku Muhammad, dengan sebutan Yang dipetuan Agong persekutuan tanah Melayu .

Kemerdekaan dicapai pada 31 Agustus 1957 dengan nama Federasi Malaya. Singapura masih berada di bawah kekuasaan Britania Raya pada saat itu karena letaknya yang stategis. Pada 16 September 1963, Federasi Malaya bersama-sama dengan koloni mahkota Britania, yaitu Sabah (Borneo Utara), Sarawak, dan Singapura, membentuk Malaysia. Kesultanan Brunei, meski mulanya berminat menggabungi Federasi, menarik kembali rencana penyatuan itu karena adanya penentangan dari sebagian penduduk, juga dalih tentang pembayaran royalti minyak dan status Sultan di dalam perencanaan penyatuan.


2.8 Proses Kemerdekaan di Singapura
               Dengan merdekanya Malaya dan posisinya yang aman dalam Persemakmuran Inggris, Singapura dan wilayah teritorial Borneo atau Pulau Kalimantan (Sarawak. Borneo Utara dan Brunei) merupakan sisa wilayah kekuasaan Inggris di Asia Tenggara yang masa depan politiknya belum diputuskan. Dipisahkannya Singapura dari bekas Negeri-negeri Selat dan pendiriannya sebagai koloni terpisah di bawah Gubernur tersendiri menjadi konsekuensi eksperirnen Inggris untuk rnenciptakan tatanan pemerintal,an baru pa-scaperang di Malaya.
               Disingkirkannya pulau ini dari Uni Malaya pada 1946 adalah kebutuhan taktis untuk mengantisipasi terjadinya perlawanan orang Melayu terhadap program yang terlanjur jadi kontroversi ini. Kepentingan ekonomi Singapura yang fokus pada perdagangan entrepot sangat berbeda dengan sistem perekonomian daratan utama Malaya yang lebih berorientasi pada bidang pertanian.
               Sudah sejak lama komunitas Melayu semenanjung tidak suka diperintah dari Singapura. Terlepas dari fakta masa lalu ini, dimasukkannya koloni dengan populasi yang rata-rata didominasi etnis Cina malah akan semakin menggulingkan keseimbangan etnis yang rumit dan membuat orang Melayu menjadi minoritas di tanah airnya sendiri.

2.9 Proses kemerdekaan di Brunei
Awal kemerdekaan Brunei Darussalam atas Inggris tidak lepas dari amandemen perjanjian 1959 antara Brunei dengan Inggris. Dalam pembaharuan perjanjian tersebut, disebutkan bahwa adanya penghapusan wewenang kerajaan Inggris atas urusan internal (dalam negeri) Brunei Darussalam, serta mengurangi peran dari komisaris tinggi, yang kemudian berhenti untuk mempertahankan fungsi serta peran dari penasihat dalam negeri pemerintahan Brunei Darussalam. Dan pada akhir tahun 1983 pemerintah kerajaan Inggris memberikan atau menyerahkan tanggung jawab kebijakan dan pertahanan asing secara penuh kepada Brunei Darussalam.   
Pada tahun 1959, Brunei mengeluarkan sebuah konstitusi baru yangmenyatakan pembentukan pemerintahan sendiri, sedangkan urusan luar negeri, pertahanan dan keamanan tetap menjadi milik Britania Raya yang diwakili olehKomisaris Tinggi. Sebenarnya Brunei sudah berusaha untuk menggunakan sistem badan legislatif terpilih yang diwakili oleh partai politik, namun usaha tersebutgagal akibat pemberontakan yang dilakukan oleh partai oposisi, Partai Rakyat Brunei pada tahun 1962. Pada akhir 1950 dan awal 1960, kerajaan Brunei ketika itu menolak rencana (walaupun pada awalnya menunjukkan minat) untuk bergabung dengan Singapura, Sabah, Sarawak, dan Tanah Melayu untuk membentuk Malaysia dan akhirnya Sultan Brunei ketika itu berkehendak untuk membentuk sebuah negara yang merdeka.
Sementara itu pada tahun 1962, terjadi pemberontakan di Brunei dan Kalimantan Utara lainnya. Pemberontakan itu dipimpin oleh Azhari. Ia memperjuangkan kemerdekaan bagi seluruh Kalimantan Utara, yang meliputi Sabah, Serawak dan Brunei. Perjuangan Azhari ini didukung oleh Indonesia, pada zaman pemerintahan Soekarno. Pemberontakan yang berlangsung selama lebih dua tahun itu hampir berhasil, lapangan terbang sudah dikuasai. Hampir seluruh daerah Brunei dikuasai pemberontak, kecuali daerah sekitar istana sultan dan daerah minyak yang dijaga ketat oleh pasukan Inggris. Azhari melarikan diri ke Indonesia, sedang ribuan pengikutnya ditawan. Ratusan di antara mereka mendapat hukuman lebih dari 15 tahun penjara.
Pada 1967 , Omar Ali Saifuddin III telah turun dari takhta dan melantik putra sulungnya Hassanal Bolkiah , menjadi Sultan Brunei ke-29. Baginda juga berkenan menjadi Menteri Pertahanan setelah Brunei mencapai kemerdekaan penuh dan disandangkan gelar Paduka Seri Begawan Sultan . Pada tahun 1970 , pusat pemerintahan negeri Brunei Town, telah diubah namanya menjadi Bandar Seri Begawan untuk mengenang jasa baginda. Baginda mangkat pada tahun 1986 .
Pada tanggal 4 Januari 1979 , Brunei dan Britania Raya telah menandatangani Perjanjian Kerjasama dan Persahabatan . Pada 1 Januari 1984 , Brunei Darussalam telah berhasil mencapai kemerdekaan sepenuhnya. Saat ini Brunei memiliki wilayah yang lebih kecil dari masa lalu, dengan berbatasan dengan Serawak dari sebelah barat sampai timur wilayah itu, serta sebelah utara berbatasan dengan Laut Cina Selatan.

2.10 Kondisi politik, ekonomi, dan sosial di Malaysia
a.Keadaan politik Malaysia
Ekspansi kekuasaan Inggris yang bertahap berdampak pada terbentuknya tiga sistem pemerintahan terpisah dalarn perbatasan Malaya Inggris. Di Negeri-negeri Selat yang diperintah secara langsung sebagaimana koloni Inggris pada umumnya, Gubernur yang bertempat di Singapura memimpin pemerintahan dengan melibatkan Dewan Eksekutif (beranggotakan para pejabat senior) dan Dewan Legisiatif (mayoritas anggotanya diangkat melalui proses pengangkatan). Urusan koloni dijalankan Sekretariat Koloni; di bawahnya terdapat para Konsul Residen yaitu kepala pemerintahan lokal Penang dan Malaka.
Koordinasi dengan negara-negara Melayu dilakukan Gubernur yang mengawasi pemerintahan dalam jabatan lainnya sebagai Komisioner Tinggi negara-negara tersebut dimana Inggris berkuasa secara tidak langsung. Dalam FMS, kekuasaan administratif dipusatkan pada Residen Jenderal di Kuala Lumpur dengan yurisdiksi terhadap seluruh Residen. Terpilih karena pengetahuan mereka tentang orang-orang Malaya dan kemarnpuan mengatur mereka, para Residen tidak hanya mengarahkan pemerintahan gaya Eropa di negara mereka masing-masing, tetapi juga menjadi anggota dan mendominasi Dewan Negara, badan legislatif utama dimana para penguasa Malaya dan para anggota elite Malaya serta sejumlah kecil perwakilan Cina bersidang untuk mengesahkan undang-undang.
Para Pegawai Daerah (District Officer) Inggris di tingkat yang lebih rendah bekerjasama dengan semua kepala desa dan melaporkan kegiatannya kepada Residen. Kondisi ini membuat pemerintah tetap terhubung dengan sensitivitas akar rumput Malaya. Menyusul dibentuknya Dewan Federal pada 1909 yang dikatakan untuk memastikan perundangan yang lebih seragam, walaupun dewan ini kemudian bertugas mengeluarkan hampir semua undang-undang di FMS peran Dewan Negara dan posisi para penguasa Melayu yang mengepalainya semakin berkurang. Setelah Komisioner Tinggi yang dibantu Residen Jenderal guengepalai Dewan Federal, para penguasa pada kenyataannya banya meniadi anggota tanpa kekuatan veto.
Situasinya sangat berbeda di komponen ketiga melayu Inggris, yaitu UMS. Di dalamnya, para penguasa Malaya yang menyadari susutnya kekuasaan rekan sejawatnva di FMS sekuat tenaga rnempertahankan kemerdekaan dan menolak keras ide untuk rnemasukkan negara mereka ke dalam FMS. Akibatnya, para 'Penasehat' Inggris yang ditugaskan ke UMS tidak menikrnati tingkat pengaruh yang sama dengan rekan sejawat Residen 'rnereka di FMS. Longgarnya kontrol Inggris membuat UMS rnarnpu mempertahankan lebih banyak karakter Malaya dalam pemerintahan mereka: orang Melayu menempati banyak posisi dalam pemerintahan termasuk Menteri Besar (kepala pemerintahan), Ketua Sekretaris Negara (Sekretaris Negara, pegawai negeri sipil paling senior) dan mayoritas Pegawai Daerah (kepala pemerintahan lokal).
Malaya Inggris tidak diperintah secara bersatu. Namun demikian, stabilitas politik yang berhasil dipertahankan pemerintah Inggris memfasilitasi bidang usaha dan lapangan kerja termasuk menarik kedatangan banyak orang Eropa yang mayoritas orang Inggris. Sebagian besar orang Eropa ini menetap di Negara-negara pesisir barat yang tidak lain adalah lokasi pusat-pusat perniagaan dan pemerintahan serta distrik perkebunan. ( Ricklef, 2013, hal 279-280).
            Di FMS, Inggris berpaya mengaitkan anstokrasi dengan kekuasaan Inggris esensi dari apa yang dikenal sebagai “pemerintahan tidak lansung” dengan mempertahankan elite tradisional yang memerintah, Inggris tidak hanva mampu menampilkan restu warga Pribumi tcrhadap keberadaan rezim asing tetapi juga mengatasi berbagai persoalan dengan membentuk korp administratif yang memadai untuk 'Malaya. pada dasarnya, pemerintahan tidak lansung dijadikan alat membujuk elite Melayu untuk menerima pemerintahan Inggris dan karenanya memastikan stabilitas keseluruhan sistempolitik di Malaya.
Dalam tatanan politik Melayu prakolonial, penguasa-yang biasa disebut 'Yang Dipertuan' dalarn gelar Melayu, istilah Hindu 'Raja' atau Arab 'Sultan' berada di puncak kekuasaan. la menjadi sirnbol asosiasi. la mendapatkan kewenangan dan memerintah negara beserta rakyatnva dengan dukungan sejumlah pemirnpin dari berbagai tingkatan baik yang merniliki latarbelakang bangsawan pemerintah rnaupun non- pemerintah. Bersama-sama mereka membentuk elite penguasa. la juga menjadi pernbela dan penegak hukurn Islam yang dengan demikian menandainya sebagai khalifah Allah di bumi. Di bawah tatanan politik feodal Malaysia, kelas penguasa merniliki kekuasaan politik dan administratif terhadap rakyat yang diasumsikan akan melayani mereka dengan setia.
Dilestarikannya tatanan sosial dan politik tradisional adalah penanda kekuasaan Inggris di negara-negara Malaya. Namun, pada kenyataannya keseimbangan kekuasaan di dalam struktur telah bergeser. Penguasa Malaya tetap bertakhta dengan bantuan hirarki kepala distriknya meski sejatinya ia tidak lagi memerintah. Peran ini pada praktiknya diambilalih  Residen Inggris yang seakan-akan diangkat hanya untuk memberi masukan kepada penguasa. Sama seperti para  kepala daerah juga kehilangan kekuasaannya ketika mereka sebagian besar diambilalih oleh para Pegawai Daerah Inggris. Cara ini ditempuh untuk menenangkan bangsawan Malaya dan mengamankan kerjasama mereka dalam pemerintahan kerajaannya.( Ricklef, 2013: 344).
Keinginan untuk memberi sedikit peran dalam aparatur pemerintahan kolonial kepada 'rekan mereka' dan elite tradisional yang kehilangan kekuasaannya berkontribusi pada stabilitas keseluruhan pemerintahan Melayu. Pejabat pernerintah kolonial pun mulai memberikan pendidikan bahasa Inggris kepada sejumlah kecil generasi muda kerajaan dan bangsawan agar bisa menjadi pegawai pernerintah dengan harapan bahwa di masa depan mereka akan menjadi sekutu.
Para pejabat pemerintah ini nantinya membentuk Malay Administrative Service (MAS) sebagai cabang tambahan. MAS berada  di naungan Malayan Civil Service (MCS) —didominasi orang Inggris yang dibentuk pada 1920 (lengan penggabungan Straits and EMS Civil Services. Karena dididik dalarn bahasa Inggris, banyak anggota elite Melayu yang pelan-pelan tertarik dengan keEropaan; Gaya hidup di pusat desa Malaya—mayoritas penduduk desa yang mencari penghidupan sebagai petani padi dan nelayan—relatif tidak berubah. Kebijakan Inggris cenderung tidak banyak mengintervensi dan sebaliknva mempercayakan kesejahteraan orang Melayu kepada para ketua adat dan kepala desa.
b. Kondisi Ekonomi Malaysia
               Selama paruh kedua abad ke-19 dan awal abad ke-20 ekspansi ekonomi secara drastis kebanyakan didorong oleh meningkatnya permintaan terhadap komoditas primernya, khususnya timah dan karet. Tetapi, ketergantungan terhadap timah dan karet sebagai dua pilar utama ekonomi Malaya terbukti berbalik menjadi kelemahan ketika permintaan internasional sangat fluktuatif selarna periode antarperang. Hasilnya adalah dua periode kernerosotan ekonomi yang panjang; pertama pada 1920—1922 lalu periode 1929—1932. Pada awal abad ke-20 industri timah lokal telah mengalami pergeseran teknologi yang memberi jalan bagi Malaya untuk mempertahankan posisinya sebagai produsen timah terbesar dunia. 
               Dengan meningkatnya investai modal dan mekanisasi melalui penggunaan tenaga hidrolik, pompa batu kerikil dan diperkenalkannya pengeruk timba yang lebih mahal, yang tiba di Malaya pada 1912, dominasi industri secara bertahap beralih dari tangan Cina kepada Eropa. Hal ini terjadi karena penggunaan rnetode skala besar yang efisien tetapi padat modal—yang terbukti berada di luar jangkauan mayoritas orang Cina pemilik tambang—tidak hanya mernudahkan para penambang Eropa mengatasi kelebihan yang sebelumnya dirniliki orang Cina. 
Kondisi sosial Malaysia
 
 
2.11 Kondisi Politik, Ekonomi, dan sosial di Singapura
a. kondisi Politik
               Konstitusi Singapura berdasarkan sistem Westminster karena Singapura merupakan bekas jajahan Inggris. Posisi Presiden adalah simbolis dan kekuasaan pemerintahan berada di tangan perdana menteri yang merupakan ketua partai politik yang memiliki kedudukan mayoritas di parlemen. Arena politik dikuasai oleh Partai Aksi Rakyat (PAP) yang telah memerintah sejak Singapura merdeka. Pemerintah PAP sering dikatakan memperkenalkan undang- undang yang tidak memberi kesempatan tumbuhnya penumbuhan partai-partai oposisi yang efektif. Cara pemerintahan PAP dikatakan lebih cenderung kepada otoriter daripada demokrasi yang sebenarnya. Namun, cara pemerintahan tersebut berhasil menjadikan Singapura sebuah Negara yang maju, bebas daripada korupsi dan memiliki pasar ekonomi yang terbuka. Para ahli politik menganggap Singapura sebuah negara yang berideologi 'Demokrasi Sosialis'. 
 
b. kondisi Ekonomi
               Singapura memiliki ekonomi pasar yang sangat maju, yang secara historis berputar di sekitar perdagangan entrepot bersama Hong Kong, Korea Selatan dan Taiwan , Singapura adalah satu dari Empat Macan Asia . Ekonominya sangat bergantung pada ekspor dan pengolahan barang impor, khususnya di bidang manufaktur yang mewakili 26% PDB Singapura tahun 2005 dan meliputi sektor elektronik, pengolahan minyak Bumi, bahan kimia, teknik mekanik dan ilmu biomedis. Tahun 2006, Singapura memproduksi sekitar 10% keluaran wafer dunia. Singapura memiliki salah satu pelabuhan tersibuk di dunia dan merupakan pusat pertukaran mata uang asing terbesar keempat di dunia setelah London, New York dan Tokyo. Bank Dunia menempatkan Singapura pada peringkat hub logistik teratas dunia. 
Ekonomi Singapura termasuk di antara sepuluh negara paling terbuka, kompetitif dan inovatif di dunia. Dianggap sebagai negara paling ramah bisnis di dunia, Ratusan ribu ekspatriat asing bekerja di Singapura di berbagai perusahaan multinasional. Terdapat juga ratusan ribu pekerja manual asing. Sebagai akibat dari resesi global dan kemerosotan pada sector teknologi, PDB negara ini berkurang hingga 2.2% pada 2001. Economic Review Committee (ERC) didirikan bulan Desember 2001 dan menyarankan beberapa perubahan kebijakan dengan tujuan merevitalisasi perusahaan. Sejak itu, Singapura pulih dari resesi, terutama karena banyaknya perbaikan dalam ekonomi dunia; ekonomi negara ini tumbuh 8,3% pada 2004 dan 6,4% pada 2005 and 7.9% in 2006.
Singapura memperkenalkan Pajak Barang dan Jasa (GST) dengan nilai awal 3% pada 1 April 1994 yang menambah pendapatan pemerintah sampai S $ 1,6 miliar (US $ 1 miliar, € 800 juta) dan menyeimbangkan keuangan pemerintah. [75] Nilai GST ditingkatkan menjadi 4% pada 2003, 5% pada 2004, dan 7% pada 1 Juli 2007. Banyak perusahaan di Singapura terdaftar sebagai perusahaan berkewajiban terbatas swasta (umumnya disebut perseroan terbatas swasta). Sebuah perseroan terbatas swasta di Singapura adalah entitas hukum terpisah dan pemegang saham tidak berkewajiban atas utan perusahaan yang melebihi jumlah modal saham yang ditanamkan.
c. kondisi sosial
            Singapura merupakan salah satu Negara yang paling padat di dunia. Lahan untuk pemukiman sudah sangat sempit. Delapan puluh lima persen (85%) penduduk Singapura tinggal di rumah susun (apartemen). Mayoritas penduduk Singapura adalah suku Cina (76,8%). Sementara penduduk aslinyaadalah Melayu. Lainnya adalah India (7,9%). Bahasa-bahasa yang digunakan adalah Inggris, Melayu, Cina (Mandarin), dan Tamil. Bahasa Melayu juga merupakan bahasa kebangsaan tetapi lebih bersifat simbolis. Digunakan untuk menyanyikan lagu kebangsaan. Penggunaan bahasa kebangsaan hanya terbatas kepada kaum Melayu saja. Hanya sedikit etnis Cina dan India yang fasih dalam bahasa Melayu.
· Suku Bangsa: Cina, Melayu, India, Pakistan
·          Jumlah Penduduk : 4,198 juta (tahun 2004)
· Bahasa: Inggris (resmi), Melayu, Cina, Tamil
· Agama: Buddha, Kristen, Islam, Tao, dan Hindu
 
2.12 Kondisi politik, ekonomi dan sosial di Brunei
 
a. kondisi politik
Brunei Darussalam memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada tanggal 1 Januari 1984, Brunei sepenuhnya negara kesultanan Islam yang berdaulat. Pemerintah Brunei Darussalam adalah negara yang memiliki corak pemerintahan monarki konstitusional dengan Sultan yang menjabat sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, merangkap seagai Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan dengan dibantu oleh Dewan.
Penasihat Kesultanan dan beberapa Menteri. Sultan Hassanal Bolkiah yang gelarnya diturunkan dalam wangsa yang sama sejak abad ke-15, adalah kepala negara dan pemerintahan Brunei. Baginda dinasihati oleh beberapa majelis dan sebuah kabinet menteri, walaupun baginda secara efektif merupakan pemerintah tertinggi. Media sangat mendukung pemerintah, dan kerabat kerajaan melestarikan status yang dihormati di dalam negeri. (Geldern dalam Konsep tentang Negara-negara Asia Tenggara.1982)
b. kondisi Ekonomi
            Ekonomi Brunei Darussalam bertumpu pada sektor minyak bumi dan gas dengan pendapatan nasional yang termasuk tinggi di dunia satuan mata uangnya adalah Brunei Dolar yang memiliki nilai sama dengan Dolar Singapura.Selain bertumpu pada sektor minyak bumi dan gas, pemerintah Brunei mencoba melakukan diversifikasi sumber-sumber ekonomi dalam bidang perdagangan. Namun dalam waktu dekat usaha tersebut mengalami hambatan karena masalah internal kerajaan.
c. Kondisi sosial budaya
            Dua pertiga dari jumlah penduduk Brunei adalah orang Melayu. Kelompok etnis minoritas yang paling penting dan yang menguasai ekonomi negara ialah orang Tionghoa (Han) yang menyusun lebih kurang 15% jumlah penduduknya. Etnis-etnis ini juga menggambarkan bahasa-bahasa yang paling penting bahasa Melayu yang merupakan bahasa resmi, serta bahasa Tionghoa. Bahasa Inggris juga dituturkan secara luas, dan ada sebuah komunitas ekspatriat yang cukup besar dengan sejumlah besar warga negara Britania dan Australia.
Islam adalah agama resmi Brunei, dan Sultan Brunei merupakan kepala agama negara itu. Agama-agama lain yang dianut termasuk agama Buddha (terutama oleh orang Tiong Hoa), agama Kristen, serta agama-agama orang asli (dalam komunitas- komunitas yang amat kecil). Budaya Brunei hampir sama dengan budaya Melayu, dengan pengaruh kuat dari Hindu dan Islam, tetapi terlihat lebih konservatif dibandingkan Malaysia.



 
 
 



BAB 3. PENUTUP

Pertarungan segitiga antara Johor, Aceh dan Malaka, Portugis untuk menguasai Selat Malaka terus bertahan sampai abad ke-17. Karena Portugis tidak memiliki surnber daya atau pun keinginan untuk mendominasi kedua Sisi Selat Malaka, Aceh-yang semakin berani setelah datangnya kekayaan baru dari para saudagar muslim yang memanfaatkan pelabuhan-pelabuhannya setelah jatuhnya, Malaka muncul sebagai pesaing kuat Johor dalam meraih hegemoni di negeri Melayu.
            Pada 28 januari 1819 Rafles menyewa singapura pada sultan Johor. Tapi menimbulkan ketegangan dengan Belanda maka diselesaikanlah dengan Traktat London (1824), semenjak itu Singapura resmi menjadi wilayah kekuasaan Inggris. Tahun 1826 pulau Pinang, Malaka dan Singapura disatukan Inggris dalam satu wilayah kekuasaannya yang disebut Straits Settlements (Wilayah pemukiman selat Malaka) yang berbasis di pulau Pinang, kemudian dipindahkan ke Singapura tahun 1832.
            Pada 1839, petualang Inggris James Brooke sampai ke Kalimantan dan menolong Sultan Brunei menumpas sebuah pemberontakan. Pemberontakanyang cukup terkenalini  terjadi pada masa Sultan Omar Ali Saifuddin II. Sebagai imbalannya, ia menjadi gubernur dan kemudian "Rajah Putih" dari Sarawak di Kalimantan barat laut dan kemudian mengembangkan daerah kekuasaan di bawah pemerintahannya.Namun ternyataBrooke memiliki maksud tersembunyi, sejak menjabat sebagai gubenur, wilayahnya semakin diperluas secara bertahap. Bahkan ia pernah meminta pemerintah Inggris untuk meneliti seberapa besar potensi Brooke untuk dapatmenguasai Brunei, akan tetapi hasilnya mengecewakan. Rekomendasi dari pemerintah Inggris menunjukkan bahwa meskipun Brunei memiliki pemerintahyang sangat buruk, namun rakyatnya memiliki loyalitas dan identitas nasionalyang sangat tinggi sehingga peluang Brooke untuk menguasai Brunei kecil.Maksud tersembunyi ini akhirnya tercium juga oleh Sultan. Pada tahun1843 terjadi konflik terbuka antara Brooke dan Sultan yang berakhir dengankekalahan di pihak Brunei. Sultan akhirnya terpaksa mengakui kemerdekaanSerawak.




















DAFTAR PUSTAKA
Hall, D.G.E. 1988. “Sejarah Asia Tenggara”. Surabaya: Usaha Nasional
Ricklefs M.C., Bruce Lockhart, Albert Lau, Portia Reyes, dan Martil Aung Thwin. 2013. “Sejarah Asia Tenggara”. Jakarta: Komunitas Bambu
Wikipedia. “Singapura”. http://en.wikipedia.org/wiki/Singapura. [tanggal 25 April 2015]
Wikipedia. "Malaysia" . http://en.wikipedia.org/wiki/Malaysia. [tanggal 25 April 2015]
Wikipedia. "Brunei" . http://en.wikipedia.org/wiki/Brunei. [Tanggal 25 April 2015]